Senin, 18 November 2013

Kehidupan, Karier, dan Karya Istimewa Bapak “Pondasi Cakar Ayam”


Rekayasawan tentu harus menerapkan pengetahuan untuk menciptakan karya bagi masyarakat. Bukan seorang rekayasawan jika tidak menghasilkan “sesuatu” yang bermanfaat karena hakikat seorang rekayasawan adalah to solve the problem. Satu diantara banyak rekayasawan dunia yang diakui karyanya yaitu Prof. Dr.(HC) Ir. R. M. Sedyatmo (1909-1984), salah satu putera terbaik bangsa dengan karyanya yang terkenal: “Pondasi Cakar Ayam”.
Beliau lahir di Karanganyar, Jawa Tengah pada 24 Oktober 1909. Nama kecilnya ialah R.M Sarwanto, kemudian berganti nama menjadi Sedyatmo yang diharapkan kelak menjadi anak yang berguna bagi masyarakat, nusa, dan bangsa. Beliau merupakan putra Mangkunegaran yang besar dalam lingkungan aristodemokrasi, artinya keluarga aristokrat yang menganut paham demokrasi dalam kehidupan harian mereka. Dalam lingkungan seperti ini beliau bertumbuh dan belajar untuk menciptakan peluang. Kehidupan kecilnya yang kreatif dan senang berimajinasi terbukti dengan kesenangannya membuat “benang gelasan” berbobot, bahkan menciptakan pabrik dari kotoran kerbau sebagai bahan permainan di masa kecilnya. Sedyatmo kecil dijuluki “Si Kancil” karena kecerdikannya dalam berpikir bahkan beliau sudah mampu berpikir kritis dan berjiwa integritas, dibuktikannya saat beliau berinteraksi dengan gurunya mengenai bentuk bumi yang bulat sedangkan beliau tidak memercayainya. Barulah setelah mendapat penjelasan dari gurunya, akhirnya beliau menerima dan mengakui kesalahannya.
Atas dukungan para guru di sekolah, Sedyatmo melangkah maju untuk menempuh pendidikan tinggi di Technische Hoge School (THS) atau sekarang dikenal dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Kepribadiannya yang senang “berkhayal namun pasti” terlihat saat beliau mampu mengalahkan dosennya dengan menjawab persoalan bilangan khayal yang rumit. Beliau diyakini akan menjadi insinyur yang hebat walaupun nilai rata-ratanya tidak terlalu tinggi. Pandangan hidup yang religious membawa kehidupannya menjadi inspirasi bagi orang banyak. Beliau meyakini istilah “aji-aji pancasana” atau senjata lima serangkai yang Tuhan beri kepada manusia: imajinasi, intelektual, intuisi, inspirasi, dan insting.
Selesai dari THS pada 1934, Sedyatmo bekerja sebagai insinyur perencanaan di berbagai instansi pemerintah. Beliau membangun Jembatan air Wiroko, selesai tahun 1937, meskipun dihadapkan dengan berbagai tantangan. Karya tersebut dicapainya sebagai awal perjuangan untuk menghasilkan karya selanjutnya. Karyanya yang sangat istimewa yaitu "Pondasi Cakar Ayam" pada tahun 1962. Temuan Sedyatmo yang merupakan hasil inspirasi dari akar pohon kelapa tersebut, awalnya digunakan dalam pembuatan apron Pelabuhan Udara Angkatan Laut Juanda, Surabaya, landasan bandara PoloniaMedan, dan landasan bandara Soekarno-HattaJakarta. Beberapa karya Sedytamo lainnya yang terkenal diantaranya pompa hidrolis, bendungan Jatiluhur, bahkan jembatan Suramadu yang menerapkan sistem seperti pondasi cakar ayam tersebut. Atas karyanya dalam pembuatan bendungan Jatiluhur, pemerintah Perancis memberinya penghargaan Chevalier de la Legion d’Honneur.
Pondasi cakar ayam terdiri dari plat dan beton bertulang dengan tebal 10-15 cm, tergantung dari jenis konstruksi dan keadaan tanah di bawahnya. Di bawah plat beton dibuat sumuran pipa-pipa dengan jarak sumbu antara 1,20 m, tebal 8 cm, dan panjangnya tergantung dari beban di atas plat serta kondisi tanahnya. Untuk pipa dipakai tulangan tunggal, sedangkan untuk plat dipakai tulangan ganda. Sistem pondasi cakar ayam sangat sederhana, sehingga cocok sekali diterapkan di daerah dengan peralatan modern dan tenaga ahli yang sulit didapat. Sampai batas-batas tertentu, sistem ini dapat menggantikan pondasi tiang pancang. Untuk gedung berlantai 3-4 misalnya, sistem cakar ayam biayanya akan sama dengan pondasi tiang pancang 12 meter.
Menjelang usia pensiun, beliau aktif bergabung dengan Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik sampai tahun 1976. Perjuangan atas karyanya telah dibuktikan melalui proyek di Cengkareng berupa Jalan Bebas Hambatan atau Jalan Tol menuju Bandara Soekarno-Hatta. Karya-karya beliau mendapat pengakuan dunia hingga akhirnya dipatenkan dan dipakai di luar negeri. Tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan, beliau berjuang dengan pantang menyerah dan penuh kesabaran.
Pondasi Cakar Ayam memiliki hak paten dari 10 negara. Selain itu beliau juga memiliki hak paten atas pipa pesat sistem Indonesia yang dipatenkan di lima negara asing. Sehingga banyak orang asing yang melamar hasil temuan cakar ayamnya. Namun Pak Sedyatmo menunjukkan bagaimana menjadi seorang nasionalis. Di saat dukungan dari bangsa sendiri belum diperoleh. Beliau tetap bertahan pada idealismenya untuk memersembahkan penemuannya bagi bangsa Indonesia.
Atas jasanya kepada almamater, saat Lustrum ketiga (Dies Natalis ke-15) Institut Teknologi Bandung tanggal 2 Maret 1974, beliau menerima penghormatan berupa Doctor Honoris Causa dalam Ilmu pengetahuan Teknik dari Senat ITB, atas dasar penilaian terhadap jasa-jasanya sebagai Insinyur, dengan promotor Prof. Ir. Soetedjo.
Nama Sedyatmo kemudian diabadikan sebagai nama jalan bebas hambatan dari Jakarta menuju bandara Soekarno-Hatta. Profesor Sedyatmo meninggal dunia di usia 75 tahun pada 1984 dan dimakamkan di Karanganyar. Pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputra Kelas I kepada Sedyatmo atas jasa-jasanya.
Sangat cocok sekali dengan kalimat berikut ini, “If it ain’t broke, it doesn’t have enough features yet.” Seorang rekayasawan akan selalu pantang menyerah dan tetap berkarya demi kemanfaatan kehidupan masyarakat. Belajar dari sosok Bapak pencipta “Pondasi Cakar Ayam” tersebut, kita menemukan salah satu nilai penting bagi seorang rekayasawan atau insinyur, yaitu pengabdian. Rekayasawan akan menerapkan kemampuan pengetahuannya untuk menciptakan “karya” yang bermanfaat bagi masyarakat.
Kehidupan Bapak Sedyatmo menggambarkan kepada kita, khususnya calon rekayasawan terbaik bangsa, agar selalu menempatkan nilai-nilai religious dalam segala aspek. Tentu tidak baik jika dalam menjalankan profesinya, seorang rekayasawan mementingkan kepentingan ego semata, bukan kepentingan sesama makhluk Tuhan. Seorang rekayasawan sejati ialah pembangun peradaban, bukan penghancur peradaban.
Realitasnya, karya-karya istimewa Bapak Sedyatmo dapat kita rasakan hingga saat ini. Salah satunya dengan adanya Jalan Tol menuju Bandara Soekarno-Hatta, akses jalur transportasi semakin mudah sehingga selain dapat meningkatkan perekonomian sekitar, juga menjadi indikator kemajuan bangsa dari sisi pembangunan. Tentu saja, karya-karya tersebut—infrastruktur dan non-infrastruktur—harus kita jaga keberadaannya.
Itulah ulasan sedikit mengenai kehidupan, karier, dan karya sang inspirator negeri dalam pembangunan, sang inovator negeri dalam pembaharuan, dan negarawan sejati dalam pengabdian. Seorang rekayasawan yang mampu menyuarakan karya anak negeri ke belahan dunia dan mengharumkan jejak pembangunan Indonesia.

Oleh: Hanifah Nurawaliah
16613087
Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Sumber :
sipil.ft.unsri.ac.id/index.php/forum/view-postlist/forum-18-lain-lain/topic-3-7- isinyur-sipil-indonesia-paling-berpengaruh
http://id.wikipedia.org/wiki/Sedyatmo