Rekayasawan
tentu harus menerapkan pengetahuan untuk menciptakan karya bagi masyarakat.
Bukan seorang rekayasawan jika tidak menghasilkan “sesuatu” yang bermanfaat
karena hakikat seorang rekayasawan adalah to
solve the problem. Satu diantara banyak rekayasawan dunia yang diakui karyanya
yaitu Prof. Dr.(HC) Ir. R. M. Sedyatmo (1909-1984), salah satu putera terbaik
bangsa dengan karyanya yang terkenal: “Pondasi Cakar Ayam”.
Beliau
lahir di Karanganyar, Jawa Tengah pada 24 Oktober 1909. Nama kecilnya ialah R.M
Sarwanto, kemudian berganti nama menjadi Sedyatmo yang diharapkan kelak menjadi
anak yang berguna bagi masyarakat, nusa, dan bangsa. Beliau merupakan putra
Mangkunegaran yang besar dalam lingkungan aristodemokrasi,
artinya keluarga aristokrat yang menganut paham demokrasi dalam kehidupan
harian mereka. Dalam lingkungan seperti ini beliau bertumbuh dan belajar untuk
menciptakan peluang. Kehidupan kecilnya yang kreatif dan senang berimajinasi
terbukti dengan kesenangannya membuat “benang gelasan” berbobot, bahkan
menciptakan pabrik dari kotoran kerbau sebagai bahan permainan di masa
kecilnya. Sedyatmo kecil dijuluki “Si Kancil” karena kecerdikannya dalam
berpikir bahkan beliau sudah mampu berpikir kritis dan berjiwa integritas,
dibuktikannya saat beliau berinteraksi dengan gurunya mengenai bentuk bumi yang
bulat sedangkan beliau tidak memercayainya. Barulah setelah mendapat penjelasan
dari gurunya, akhirnya beliau menerima dan mengakui kesalahannya.
Atas
dukungan para guru di sekolah, Sedyatmo melangkah maju untuk menempuh
pendidikan tinggi di Technische Hoge School
(THS) atau sekarang dikenal dengan Institut
Teknologi Bandung (ITB). Kepribadiannya yang senang “berkhayal namun pasti”
terlihat saat beliau mampu mengalahkan dosennya dengan menjawab persoalan
bilangan khayal yang rumit. Beliau diyakini akan menjadi insinyur yang hebat
walaupun nilai rata-ratanya tidak terlalu tinggi. Pandangan hidup yang religious membawa kehidupannya menjadi
inspirasi bagi orang banyak. Beliau meyakini istilah “aji-aji pancasana” atau
senjata lima serangkai yang Tuhan beri kepada manusia: imajinasi, intelektual,
intuisi, inspirasi, dan insting.
Selesai
dari THS pada 1934,
Sedyatmo bekerja sebagai insinyur perencanaan di berbagai instansi pemerintah. Beliau
membangun Jembatan air Wiroko, selesai tahun 1937, meskipun dihadapkan dengan
berbagai tantangan. Karya tersebut dicapainya sebagai awal perjuangan untuk
menghasilkan karya selanjutnya. Karyanya yang sangat istimewa yaitu "Pondasi Cakar Ayam" pada tahun 1962.
Temuan Sedyatmo yang merupakan hasil inspirasi dari akar pohon kelapa tersebut,
awalnya digunakan dalam pembuatan apron Pelabuhan
Udara Angkatan Laut Juanda, Surabaya,
landasan bandara Polonia, Medan,
dan landasan bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.
Beberapa karya Sedytamo lainnya yang terkenal diantaranya pompa hidrolis, bendungan
Jatiluhur, bahkan jembatan Suramadu yang menerapkan sistem seperti pondasi
cakar ayam tersebut. Atas karyanya dalam pembuatan bendungan Jatiluhur, pemerintah
Perancis memberinya penghargaan Chevalier
de la Legion d’Honneur.
Pondasi
cakar ayam terdiri dari plat dan beton bertulang dengan tebal 10-15 cm,
tergantung dari jenis konstruksi dan keadaan tanah di bawahnya. Di bawah plat
beton dibuat sumuran pipa-pipa dengan jarak sumbu antara 1,20 m, tebal 8 cm,
dan panjangnya tergantung dari beban di atas plat serta kondisi tanahnya. Untuk
pipa dipakai tulangan tunggal, sedangkan untuk plat dipakai tulangan ganda.
Sistem pondasi cakar ayam sangat sederhana, sehingga cocok sekali diterapkan di
daerah dengan peralatan modern dan tenaga ahli yang sulit didapat. Sampai
batas-batas tertentu, sistem ini dapat menggantikan pondasi tiang pancang.
Untuk gedung berlantai 3-4 misalnya, sistem cakar ayam biayanya akan sama
dengan pondasi tiang pancang 12 meter.
Menjelang
usia pensiun, beliau aktif bergabung dengan Departemen Pekerjaan Umum dan
Tenaga Listrik sampai tahun 1976. Perjuangan atas karyanya telah dibuktikan
melalui proyek di Cengkareng berupa Jalan Bebas Hambatan atau Jalan Tol menuju
Bandara Soekarno-Hatta. Karya-karya beliau mendapat pengakuan dunia hingga
akhirnya dipatenkan dan dipakai di luar negeri. Tentu tidak semudah membalikkan
telapak tangan, beliau berjuang dengan pantang menyerah dan penuh kesabaran.
Pondasi
Cakar Ayam memiliki hak paten dari 10 negara. Selain itu beliau juga
memiliki hak paten atas pipa pesat sistem Indonesia yang dipatenkan di lima
negara asing. Sehingga banyak orang asing yang melamar hasil temuan cakar
ayamnya. Namun Pak Sedyatmo menunjukkan bagaimana menjadi seorang nasionalis.
Di saat dukungan dari bangsa sendiri belum diperoleh. Beliau tetap bertahan
pada idealismenya untuk memersembahkan penemuannya bagi bangsa Indonesia.
Atas
jasanya kepada almamater, saat Lustrum ketiga (Dies Natalis ke-15) Institut Teknologi Bandung tanggal
2 Maret 1974, beliau menerima penghormatan berupa Doctor Honoris Causa dalam Ilmu pengetahuan Teknik dari Senat ITB, atas dasar
penilaian terhadap jasa-jasanya sebagai Insinyur, dengan promotor Prof.
Ir. Soetedjo.
Nama
Sedyatmo kemudian diabadikan sebagai nama jalan bebas hambatan dari
Jakarta menuju bandara Soekarno-Hatta. Profesor Sedyatmo meninggal dunia di
usia 75 tahun pada 1984 dan
dimakamkan di Karanganyar. Pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputra
Kelas I kepada Sedyatmo atas jasa-jasanya.
Sangat
cocok sekali dengan kalimat berikut ini, “If
it ain’t broke, it doesn’t have enough features yet.” Seorang rekayasawan
akan selalu pantang menyerah dan tetap berkarya demi kemanfaatan kehidupan
masyarakat. Belajar dari sosok Bapak pencipta “Pondasi Cakar Ayam” tersebut,
kita menemukan salah satu nilai penting bagi seorang rekayasawan atau insinyur,
yaitu pengabdian. Rekayasawan akan menerapkan kemampuan pengetahuannya untuk
menciptakan “karya” yang bermanfaat bagi masyarakat.
Kehidupan
Bapak Sedyatmo menggambarkan kepada kita, khususnya calon rekayasawan terbaik
bangsa, agar selalu menempatkan nilai-nilai religious
dalam segala aspek. Tentu tidak baik jika dalam menjalankan profesinya, seorang
rekayasawan mementingkan kepentingan ego
semata, bukan kepentingan sesama makhluk Tuhan. Seorang rekayasawan sejati
ialah pembangun peradaban, bukan penghancur peradaban.
Realitasnya,
karya-karya istimewa Bapak Sedyatmo dapat kita rasakan hingga saat ini. Salah
satunya dengan adanya Jalan Tol menuju Bandara Soekarno-Hatta, akses jalur
transportasi semakin mudah sehingga selain dapat meningkatkan perekonomian
sekitar, juga menjadi indikator kemajuan bangsa dari sisi pembangunan. Tentu
saja, karya-karya tersebut—infrastruktur dan non-infrastruktur—harus kita jaga
keberadaannya.
Itulah
ulasan sedikit mengenai kehidupan, karier, dan karya sang inspirator negeri
dalam pembangunan, sang inovator negeri dalam pembaharuan, dan negarawan sejati
dalam pengabdian. Seorang rekayasawan yang mampu menyuarakan karya anak negeri
ke belahan dunia dan mengharumkan jejak pembangunan Indonesia.
Oleh:
Hanifah Nurawaliah
16613087
Fakultas
Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut
Teknologi Bandung
Sumber
:
sipil.ft.unsri.ac.id/index.php/forum/view-postlist/forum-18-lain-lain/topic-3-7-
isinyur-sipil-indonesia-paling-berpengaruh
http://id.wikipedia.org/wiki/Sedyatmo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar