Jumat, 17 Oktober 2014

Aku Ingin Berqurban

Aku  Ingin Berqurban

Karena pengorbanan itu dicontohkan
Oleh Siti Hajar tidak lelah mencari air zam-zam
Karena pengorbanan itu dicontohkan
Oleh Ibrahim yang yakin akan  perintah Tuhan
Karena pengorbanan itu dicontohkan
Oleh Ismail yang tidak pernah menyalahkan
Meskipun kita tak kan pernah bisa
Melebihi perjuangan Siti Hajar sebagai Ibu
Melebihi keteladanan  Ibrahim sebagai Ayah
Melebihi kepatuhan Ismail sebagai Anak
Tapi berkorbanlah dalam hal apa saja
Asal ikhlas

Qurban dan Korban, dua kosakata yang hampir sama ketika didengar tetapi berbeda dalam penulisan (homophone). Dua ‘kata’ ini membuat Saya penasaran, “Apakah makna ‘berqurban’ sama saja dengan ‘berkorban’? Apakah pengorbanan termasuk ‘qurban’ juga? Atau jangan-jangan berqurban sama saja dengan rela berkorban?”.  Sepertinya ini menarik untuk dibahas karena begitu uniknya kedua kosakata ini.
Antara Berqurban dan Berkorban
Dalam bahasa Arab, kata ‘Qurban’ berasal dari Qaraba-Yaqribu-Qarban yang berarti dekat. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), korban adalah pemberian untuk menyatakan kebaktian, kesetiaan, dsb. Berkorban, menyatakan kebaktian, kesetiaan, dsb. Dari  kedua makna tersebut, Saya menyimpulkan bahwa berqurban sama saja dengan berkorban. Hanya, konteksnya saja yang berbeda. Berqurban merupakan perbuatan yang bernilai ibadah secara langsung. Tetapi berkorban, belum tentu bernilai ibadah, tergantung kepada siapa seseorang berkorban.
            Al-Qur’an memuat banyak istilah ‘qurban’. Dalam QS. Al-Kautsar ayat 2, Allah SWT berfirman:
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).” (QS 108:2)

            Berdasarkan ayat tersebut, jelaslah bahwa berqurban merupakan ibadah dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Secara terminologis, berqurban adalah  menyembelih ‘hewan qurban’ pada Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah) sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Tampaknya, tidak sedikit orang yang masih keliru antara makna qurban dan korban. Tetapi dalam hal ini, Saya berpendapat bahwa ada korelasi nonverbal antara kedua kata tersebut. Bukan perihal makna secara bahasa, tetapi hikmah qurban terhadap pengorbanan.

Hikmah Berqurban
            Tidak ada sesuatu pun yang Allah ciptakan tanpa hikmah. Apalagi tentang ibadah. Banyak sekali rahasia dan hikmah dalam setiap perintah-Nya. Berqurban merupakan salah satu bentuk ketaatan pada Allah. Karena dalam berqurban, seorang hamba tidak hanya sekedar menyembelih hewan qurban, tetapi menyerahkan jiwa, raga, dan harta demi menggapai keridaan-Nya adalah esensi berqurban yang sebenarnya.
            “Daging-daging dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. 22:37)
            Berqurban merupakan wujud rasa syukur seorang hamba pada Allah, Rabb Yang Maha Pemberi Rizki. Dalam berqurban, seorang hamba mengeluarkan sebagian hartanya di jalan Allah. Semua orang memiliki perasaan yang sama, bahagia atas rezeki yang Allah berikan. Bahkan, seseorang yang biasanya jarang memakan daging, akhirnya bisa merasakan kelezatan rizki Tuhan (salah satunya daging) di Hari Raya Idul Adha. Sungguh, di sinilah salah satu bentuk keindahan islam bagi seluruh umat manusia dan semesta.
            Hikmah lainnya dari berqurban adalah  merasakan perjuangan dan pengorbanan Nabi Kekasih Allah, Ibrahim AS dan puteranya, Ismail AS. Sejarah mencatat bahwa betapa taatnya Nabi Ismail yang rela dan yakin atas perintah Allah. Begitu pula Ayahnya, Nabi Ibrahim, adalah hamba Allah yang taat dan tidak mengikuti langkah-langkah setan. Perintah Allah kepada Ibrahim untuk menyembelih Ismail ternyata merupakan sebuah ujian ketaatan. Dan Allah pun menggantikan Ismail yang tengah akan disembelih dengan seekor biri.biri. Maasyaa’ Allah...
Aku Ingin Berqurban
            Pemaparan di atas tentang berqurban, memotivasi Saya untuk ingin berqurban. Meskipun masih berupa cita-cita (belum dapat diwujudkan), Saya yakin suatu saat nanti, Saya bisa berqurban atas kehendak Allah. Melalui tulisan sederhana ini, Saya menuliskan cita-cita berqurban agar bisa didoakan oleh teman-teman. Aamiin.
            Saya ingin sedikit berbagi cerita tentang ambisi orang-orang di sekitar Saya di momen Idul Adha tahun ini. Pertama, propaganda kakak-kakak Gamais yang kece abis untuk mengajak mahasiswa ITB berqurban. Propaganda ini menjadikan Reminder bagi Saya khususnya, yang selama ini ternyata lengah terhadap mimpi tahun lalu di saat Saya bertekad untuk berqurban di tahun 2014.
Kedua, kelengahan Saya terhadap mimpi berqurban di tahun ini dijebak dengan sebuah “kencleng” bertuliskan ajakan berqurban dari kakak-kakak KAMIL (Keluarga Mahasiswa Islam Teknik Lingkungan). Setiap harinya, sebuah amplop diedarkan ke kelas Saya (Teknik Lingkungan 2013). Lagi-lagi, amplop ini seperti sebuah teguran atas kelengahan Saya. H-7 Idul Adha, amplop KAMIL tersebut berubah menjadi sebuah kantong seperti tempat pensil dengan tulisan pengingat UTS yang sudah dekat. Hmmmm UTS..... Mungkin ini bisa menjadi jalan hikmah kemudahan dalam menjalani UTS. Momen ajakan berqurban melalui sebuah amplop tersebut pun membuat beberapa teman Saya tertarik untuk berqurban bahkan penasaran dengan ibadah qurban itu seperti apa.
Ketiga,  panggilan ibadah yang selama beberapa hari ini Saya lengahkan, ternyata diingatkan melalui sebuah pesan singkat ajakan menulis kisah inspiratif tentang berqurban. Semoga ini menjadi penguat tekad Saya agar di tahun berikutnya, agar Saya tidak lengah dalam mewujudkan mimpi, salah satunya mimpi berqurban.
Itulah beberapa hal yang Saya rasakan di momen Idul Adha tahun ini. Meskipun mimpi berqurban belum dikehendaki-Nya, setidaknya Saya diingatkan oleh semangat orang-orang sekitar yang memiliki ambisi untuk meraih keridaan-Nya dengan berqurban. Satu hal yang paling esensial dari berqurban, adalah keikhlasan sebagai parameter apakah pengorbanan kita akan menjadi ibadah atau tidak. Tidak hanya #Ikhlasberqurban tetapi ikhlas berkorban dalam menjemput taqdir-Nya, kapan Saya bisa berqurban atas hasil jerih payah sendiri. Mudah-mudahan Allah menghendaki dan pasti menghendaki. Aamiin...
Bandung, 2 Oktober 2014
Hanifah Nurawaliah
15313051

BIODATA DIRI
NAMA            : HANIFAH NURAWALIAH
NIM                : 15313051
JURUSAN      : TEKNIK LINGKUNGAN ITB
TTL                 : TASIKMALAYA, 11 FEBRUARI 1995
ALAMAT       : JL TAMAN SARI 33B/56
NO HP                        : 08977485189
EMAIL           : hnurawaliah@gmail.com






:

            

Minggu, 23 Februari 2014

Sepenggal Kisah Tiga Tahun Lalu


Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB. Aku masih belum menyempatkan untuk pulang ke kostan dari acara angkatan, malam keakraban FTSL. Meski tubuhku sudah lelah, namun pikiranku masih tidak tertuju pada tempat yang amat nyaman untuk bisa beristirahat dengan tenang. Ya, kasur empuk yang cocok sekali jadi teman di saat kondisi tubuh sudah capek. Aku langsung menuju sebuah tempat yang menenagkan hati, Masjid Salman ITB. Sepertinya hari ini banyak yang harus aku lakukan, Aku tak mau bermalas-malasan. Tugas kuliah pun menanti untuk segera dikerjakan. Namun aku teringat pada satu hal, 23 Februari 2014.Sebelum aku tiba di Masjid Salman untuk melaksanakan shalat Dzhuhur, HP-ku berdering. Kulihat layar HP, Ibuku mengirimkan sebuah SMS kepadaku. Isinya, “De Indah Sakit”. Hari-hari ini memang keluargaku di Tasikmalaya banyak yang sedang Allah uji melalui sakit. Informasi dari Ibu membuatku ingin sekali bertemu dengan keuargaku di sana, melepas rindu walaupun baru satu bulan aku kembali ke perantauan ilmu.Tak lupa pula aku melihat kalender di HP-ku, tertulis tanggal 22 Februari 2014. Tepat satu hari sebelum dulu, 2011, Bapakku wafat. Terketuklah hatiku untuk menuliskan sebuah tulisan mengenai kisah tiga tahun lalu. Akhirnya, pukul 14.00, aku mengasingkan diri ke perpustakaan Masjid Salman, tempat yang belum aku singgahi sebelumnya. Keinginan untuk pulang ke kostan, saya lupakan saja. Karena, hujan ternyata kembali menyapa hari-hariku. Dalam hati,“Oh hujan, aku tahu engkau makhluk cipataan Allah Yang Mahakuasa. Semoga Allah mengirimi ummat melalui keberkahan hujan ini.”Aku tidak mau sia-sia hari ini. Keinginan untuk selalu berbagi melalui sebuah tulisan, akhirnya mulai aku lakukan. Perpustakaan Salman, menjadi saksi kebisuan aku di tengah keramaian suasana kampus dalam berbagai kegiatan (ITB day, Ganesha Film Festival).Aku menulis di meja yang berhadapan dengan buku-buku luar biasa. Ada buku-buku tentang Imam 4 Mazhab, Novel, Buku berjudul Daulah Bani Saljuk, dan lain-lain, seakan-akan menjeratku untuk tidak segera pergi dari perpustakaan. Sepertinya ini teguran bagiku bahwa aku hanyalah manusia yang belum tahu banyak hal. Allah, faghfirlii.Oke, karena esok hari adalah hari yang amat bersejarah bagiku, bagi keluargaku, akan aku ceritakan sebuah kisah, momen yang.....membuatku bisa kuat hingga kini. Aamiin.Dulu ketika ku masih ada dalam pangkuan hangatmuSemoga aku ingat akan momen itu, tapi sayang tidakDulu ketika ku masih ada dalam belaian kasih sayangmu dan  diantara jemari ibuAku rasa aku ingat, tapi ternyata tidakDulu ketika aku mungkin membuatmu untuk terus mengajarkanku merangkak, berjalan, hingga akhirnya tertawaAku mungkin tak ingat, memang ternyata aku tak ingat saat ituBiarpun masa kecilku amat bahagiaBiarpun masa remajaku hanya separuh dalam bersamamuTapi hangatnya terasa, hingga ku kini beranjak dewasaOh Abi, Bapak, Ayah, Abah ...Kini aku tak lagi kecil, adik-adikku punBahkan Ibu sudah tak muda lagiKini aku hanya bisa mengenangDalam sebuah catatan di lembaran doa Empat tahun lalu, laki-laki berkumis itu dengan bahagianya berkata pada setiap orang yang sedang berada di dalam rumah. Dia terlihat seperti mendapatkan sebuah hadiah istimewa yang hanya terjadi satu kali dalam hidupnya. Badannya yang cukup gemuk, rambut ikalnya nampak tidak disisir, dengan tenang berkata,Ah teu nanaon. Damang lah, tuh ning jag-jag keneh Bapak!” (Ah gak apa-apa. Sembuh pastinya. Lihat, ini Bapak terlihat masih sehat-sehat saja).Saat itu, sekitar magrib, setelah Bapak selesai menjalani pemeriksaan Laboratorium, keluarga besar kami berkumpul di rumah untuk menunggu hasil cek lab.Teu nanaon kumaha Bapak, Bapak teu sedih divonis teu damang ginjal?” (Gak apa-apa gimana, Pak? Bapak tidak merasa sedih divonis sakit ginjal?)Laki-laki yang saat itu tengah memakai kemeja kuning pun terseyum. Dia tidak menjawab kembali...........“Dia tidak pernah menunjukkan sisi kelemahan pada siapa pun.”Satu tahun lamanya Bapak berobat ke sana-kemari hingga harus menjalankan cuci darah dua kali dalam seminggu. Dalam satu tahun tersebut, Ibu sangat sangat setia menemani Bapak berobat. Kasih sayangnya, perhatiannya, kesetiaannya, menggambarkan ke-Maha Rahman Rahiim-nya Allah SWT.Di kota Bandung ini, aku tahu, Bapak dan Ibu pernah berkali-kali berobat ke salah satu rumah sakit di sini, bahkan menginap di tempat yang sangat sederhana. Sebuah tempat yang aku kira tidak cocok bagi orang sakit seperti Bapak. Bapak dan Ibu menginap sementara di sebuah kostan kecil, lantainya berkayu, dindingnya agak retak, jauh dari kondisi nyaman.“Sesederhana itukah Bapak dan Ibu dalam menjalani hidup?”

Selama Bapak berada dalam kondisi sakitnya, kami (aku dan ketiga adikku) selalu menyempatkan untuk memegang urat nadinya. Kami tahu Bapak sakit, kami tahu Bapak ingin sekali setiap saat untuk selalu dibelai tangan kakinya, kami tahu Bapak senang bila anak-anaknya memijitnya dengan kasih sayang.Aku raba kulitnya, keras. Aku tatap matanya, pucat. Aku perhatikan bibirnya, biru. Aku pegang perutnya, kembung. Seluruh badannya menghitam. Aku tahu, kondisi seseorang yang terkena penyakit ginjal memang seperti itu.............Saat itu, Ayah duduk di sampingku. Tiba-tiba Ayah memberiku sebuah isyarat. Melalui lisannya ia berkata, “Emh Neng, mun Bapak engke maot daru’akeun nya.”  (Duh Neng, Kalau nanti Bapak wafat, doakan ya).“Oh....”Aku hanya bisa berkata satu kata saja. Pelan. Tak berani aku menatap laki-laki yang baru saja memberiku isyarat krusial tadi............. Saat itu, tepat sekitar satu tahun Ayah menjalani pengobatan. Tidak kunjung sembuh. Badannya makin kurus, hitam, bahkan rambutnya sudah sedikit. Matanya tak tajam lagi, jalannya sudah pelan sekali. Satu dua tiga sudah mulai terdengar kata, “Aduhhhhh sakit.....” Ayahku kesakitan.Sudah sangat sering Bapak keluar masuk Rumah Sakit saat itu. Keluarga, teman-teman Bapak, bahkan tetangga pun selalu menyempatkan diri untuk menemani Bapak di Rumah Sakit. ...........Saat itu lagi. Tanggal 23 Februari 2014, aku baru bisa menemui Bapak pada jam 17.00 WIB. Aku baru selesai menemui wali kelasku karena ada kepentingan kelas. Setelah aku memasuki ruangan di mana Bapak berada, terlihat banyak sekali orang. Terlihat sekali keganjilan pada Bapak. Bapak yang biasanya terlihat biasa saja saat menjalani proses cuci darah, kini terlihat berbeda.Keluarga mengajakku untuk membacakan Surah Yaasiin. Perasaanku masih bingung. Aku sempatkan untuk berbicara dengan Bapak. Namun terlihat tatapannya sudah kosong.“Ketahuilah Oh Bapak. Saat itu aku menyesal. Aku bingung. Engkau tak sempat membalas kata-kataku. Aku tahu engkau sedang merasakan sakit.”Masih dibacakan surah Yaasiin. Segeralah Bapak dibawa ke suatu ruangan. Orang-orang semakin banyak menyaksikan Bapak. Lantunan “Laailaaha IllaAllah” didekatkan ke telinga Bapak.Semua masih membacakan ayat-ayat suci. Aku masih memerhatikan wajah Bapak. Aku raba kakinya, dingin.Seketika, pamanku tiba-tiba menangis.Dan, ternyata kebisuan Bapak saat itu, tidak menyedarkan kami bahwa Bapak sudah tiada. Kami tak tahu nyawa laki-laki kuat itu telah malaikat maut ambil. Innalillahii wainna ilaihi raaji’uun. Begitu kami mengucakan kalimah itu, setelah seorang suster mengatakan bahwa dia sudah tiada.......Allaah, mimpikah aku saat itu? Tidak. Aku yakin. Dengan segera Aku cium wajah Bapak untuk terakhir kalinya. Aku peluk jasad yang tak bernyawa itu dengan erat, lebih erat. Kami (aku, adik, dan sanak keluarga) satu per satu memeluknya. Untuk terakhir kali..........“”Ayah kini kau sudah berada dalam pangkuan-NyaRasakanlah wahai Ayah, rasakanlah wujud kasih sayang-NyaKami merindukanmu dalam pribadimuSederhana, penyayang, motivatorWahai Ayah sang mentor hakikiKini kami menjadi yatimTidak lagi memiliki Ayah selayaknya teman-teman kamiTidak lagi kami bisa mengatakan, “Ayah, aku ingin dibelikan itu”Tidak sempat lagi kami mengatakan, “Ayah, ayo kita diskusi masa depan”Tidak lagi bisa memelukmu, menciummu, menatapmu Ayah, terima kasih.Kami bisa terlahir di dunia indah iniKami bisa hidup sampai kiniWalau tak lama kami bersamamuKami berharap besar wahai AllaahPertemukankami di syurga-Mu nantiWahai Allaah, Tuhan kamiAmpuni dosa-dosa Ibu-Bapak kami

 Waktu menunjukkan pukul 15.28 WIB. Aku cukupkan sepenggal kisah tiga tahun lalu. Saat aku menyendiri di sini, aku tahu, doa-doa lebih utama agar kupanjatkan kepada-Nya. Aku harus segera shalat Ashar.  Tugas kuliah harus segera terselesaikan.Bapak, Mamah, Gina, De Lia, De Indah... Eneng cinta karena Allaah.Bandung, 22 Februari 2014

Sabtu, 08 Februari 2014

Melalui Teknologi Kelautan, Sambut Indonesia Sejahtera di Era Komunitas ASEAN 2015


Indonesia, selain dijuluki sebagai negara kepulauan terbesar di dunia (archipelago state), juga dijuluki sebagai negara maritim. Julukan tersebut muncul karena luas perairan Indonesia yang melebihi luas daratan. Luas daratan Indonesia hanya 1,9 juta km2, sedangkan luas perairannya 7.9 juta km2. Perairan Indonesia memberikan kontribusi tiga perempat dari seluruh wilayah Indonesia, mencakup laut teritorial terluas di dunia (3,2 juta km²), belum termasuk 2,9 juta km² perairan zona ekonomi eksklusif yang terluas ke-12 di dunia, dan 95.108 km garis pantai yang terpanjang kelima di dunia. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa negara Indonesia memiliki potensi bahari yang sangat melimpah.
Sebagaimana kita tahu bahwa Komunitas ASEAN akan dibentuk pada tahun 2015, lima tahun lebih cepat dari kesepakatan awal. Komunitas ASEAN 2015 tersebut terbagi dalam tiga pilar, yaitu Komunitas Keamanan ASEAN, Komunitas Ekonomi ASEAN dan Komunitas Sosial-Budaya ASEAN. Komunitas ASEAN 2015 merupakan tantangan yang sangat besar bagi Indonesia. Sebagai gambaran, di tahun 2015 mendatang, bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya akan terintegrasikan dalam satu komunitas tunggal ASEAN. Siap tidak siap, sebagai anggota ASEAN, Indonesia harus siap menghadapi tantangan besar ini.
Salah satu ancaman besar di era 2015 mendatang adalah ancaman perairan laut Indonesia. Posisi perairan Indonesia yang strategis di Asia Tenggara merupakan modal besar bagi kemajuan Indonesia untuk era Komunitas Bebas ASEAN 2015. Modal tersebut harus dijaga dan dioptimalisasikan dengan baik, mengingat perairan Indonesia secara jelas akan digunakan sebagai salah satu akses lalu lintas antara Indonesia dengan negara-negara lain di ASEAN.
Kondisi perairan Indonesia merupakan salah satu determinan suksesnya bangsa kita dalam menghadapi tantangan global, salah satunya Komunitas ASEAN 2015. Kecenderungan dunia yang semakin menyatu dengan berlakunya komunitas bebas tersebut membutuhkan dukungan dari segala sistem. Salah satunya ialah sistem transportasi sebagai akses penghubung antar negara di ASEAN. Di sinilah peran aplikasi teknologi kelautan sangat dibutuhkan dalam rangka mendukung segala sistem melalui infrastruktur kelautan. Tidak hanya di bidang transportasi, teknik kelautan pun berperan penting dalam menjaga segala sumber daya laut beserta pengolahannya secara optimal dan berkelanjutan (sustainable).
Apa aplikasi bidang keilmuan teknik kelautan untuk kemajuan Indonesia di era Komunitas ASEAN 2015? Berikut ini akan dijelaskan mengenai aplikasi teknologi kelautan yang akan mendukung terciptanya ketiga pilar Komunitas ASEAN 2015 bagi kesejahteraan Indonesia.
Sebagai negara maritim dimana luas wilayah didominasi oleh perairan, dibutuhkan “alutsista” untuk menjaga kedaulatan negara di lautan. Kebutuhan akan kapal-kapal perang untuk keperluan patroli maupun perang menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar lagi. Hal ini harus didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi mengenai produk pertahanan dan keamanan maritim. Sebagai contoh, salah satu aplikasi teknik kelautan di bidang teknik perkapalan yaitu teknologi radar navigasi untuk kebutuhan berlayar, kemudian radar pantai untuk menjaga pantai, serta sistem senjata combat management system. Berdasarkan informasi dari media, Kementerian Ristek, dengan LIPI dan ITB telah berhasil mengembangkan teknologi tersebut. Teknologi tentu harus terus dikembangkan sebagai langkah persiapan Indonesia menghadapi Komunitas Keamanan ASEAN 2015.
Dalam menghadapi pilar Komunias ASEAN yang kedua, Asean Economic Community (AEC) atau Komunitas Ekonomi ASEAN 2015, teknologi kelautan sangat berperan penting dalam rangka mendukung terciptanya kondisi tersebut. Salah satu permasalahan urgent yang berkaitan dengan ekonomi adalah akses pasar. Jalur transaksi pasar bebas ASEAN 2015 tentu menggunakan perairan laut sebagai akses. Dalam hal ini, peran teknologi kelautan sangat dibutuhkan, terutama dalam hal penyediaan infrastruktur pantai maupun lepas pantai. Gedung di pinggir laut, dermaga, dan pelabuhan sangat dibutuhkan untuk membantu proses perdagangan. Kini, Kementerian Republik Indonesia akan membentuk era Industrialisasi Kelautan dan Perikanan dengan pendekatan blue economy. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melihat penerapan blue economy paralel dengan persiapan Indonesia menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) 2015. Di sinilah aplikasi teknik kelautan digunakan, baik dalam hal penyediaan infrastruktur maupun sumber energi alternatif dalam proses industri. Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut, merupakan salah satu teknologi penyediaan energi alternatif yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri maupun kebutuhan lainnya. Dengan mengoptimalkan teknologi kelautan tersebut, Indonesia harus siap menghadapi tantangan Komunitas Ekonomi ASEAN 2015.
Peran insinyur kelautan sangat dibutuhkan dalam rangka membentuk pilar Komunitas ASEAN 2015 yang ketiga, yakni Komunitas Sosial-Budaya ASEAN 2015. Melalui kompetensi para insinyur kelautan, berbagai komunitas sosial mengenai kelautan akan terbentuk. Tidak hanya itu, para insinyur kelautan akan menjadi role model bagi semua pihak dalam menjaga sumber daya laut sebagai kekayaan bangsa. Oleh karena itu, dengan “menjamurnya” para insinyur kelautan di Indonesia, potensi terjaganya wilayah perairan dalam menghadapi Komunitas Sosial-Budaya ASEAN 2015 akan lebih efektif, mengingat bahwa di tangan para rekayasawanlah tantangan akan dijawab.
Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwa teknologi kelautan merupakan modal yang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan di era Komunitas ASEAN 2015. Potensi bahari Indonesia yang sangat melimpah tentunya harus dijaga dan dioptimalkan dengan baik, salah satunya melalui aplikasi bidang teknik kelautan. Setiap komponen masyarakat Indonesia harus melakukan langkah persiapan untuk menghadapi tantangan Komunitas ASEAN 2015. Khususnya mahasiswa, sebagai agent of change, role model, dan iron stock, harus bisa menjawab tantangan masa depan. Melalui teknik kelautan, sambut Komunitas Bebas ASEAN 2015, Sambut Indonesia Sejahtera.
Oleh: Hanifah Nurawaliah (16613087)
Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB 2013
Untuk Frontier KMKL ITB 2014


Referensi:

Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. 2011. Kelautan dan Perikanan dalam Angka. Diakses pada 8 Februari 2014. http://statistik.kkp.go.id/index.php/arsip/file/37/kpda11_ok_r06_v02.pdf/
Humas Riset dan Teknologi. 2010. Public Corner: Peran SDM Iptek dalam Riset Hankam. Diakses pada 8 Februari 2014. http://ristek.go.id/?module=News+News&id=7506

Diakses pada 8 Februari 2014.http://id.wikipedia.org/wiki/Wawasan_2020_ASEAN