Minggu, 23 Februari 2014

Sepenggal Kisah Tiga Tahun Lalu


Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB. Aku masih belum menyempatkan untuk pulang ke kostan dari acara angkatan, malam keakraban FTSL. Meski tubuhku sudah lelah, namun pikiranku masih tidak tertuju pada tempat yang amat nyaman untuk bisa beristirahat dengan tenang. Ya, kasur empuk yang cocok sekali jadi teman di saat kondisi tubuh sudah capek. Aku langsung menuju sebuah tempat yang menenagkan hati, Masjid Salman ITB. Sepertinya hari ini banyak yang harus aku lakukan, Aku tak mau bermalas-malasan. Tugas kuliah pun menanti untuk segera dikerjakan. Namun aku teringat pada satu hal, 23 Februari 2014.Sebelum aku tiba di Masjid Salman untuk melaksanakan shalat Dzhuhur, HP-ku berdering. Kulihat layar HP, Ibuku mengirimkan sebuah SMS kepadaku. Isinya, “De Indah Sakit”. Hari-hari ini memang keluargaku di Tasikmalaya banyak yang sedang Allah uji melalui sakit. Informasi dari Ibu membuatku ingin sekali bertemu dengan keuargaku di sana, melepas rindu walaupun baru satu bulan aku kembali ke perantauan ilmu.Tak lupa pula aku melihat kalender di HP-ku, tertulis tanggal 22 Februari 2014. Tepat satu hari sebelum dulu, 2011, Bapakku wafat. Terketuklah hatiku untuk menuliskan sebuah tulisan mengenai kisah tiga tahun lalu. Akhirnya, pukul 14.00, aku mengasingkan diri ke perpustakaan Masjid Salman, tempat yang belum aku singgahi sebelumnya. Keinginan untuk pulang ke kostan, saya lupakan saja. Karena, hujan ternyata kembali menyapa hari-hariku. Dalam hati,“Oh hujan, aku tahu engkau makhluk cipataan Allah Yang Mahakuasa. Semoga Allah mengirimi ummat melalui keberkahan hujan ini.”Aku tidak mau sia-sia hari ini. Keinginan untuk selalu berbagi melalui sebuah tulisan, akhirnya mulai aku lakukan. Perpustakaan Salman, menjadi saksi kebisuan aku di tengah keramaian suasana kampus dalam berbagai kegiatan (ITB day, Ganesha Film Festival).Aku menulis di meja yang berhadapan dengan buku-buku luar biasa. Ada buku-buku tentang Imam 4 Mazhab, Novel, Buku berjudul Daulah Bani Saljuk, dan lain-lain, seakan-akan menjeratku untuk tidak segera pergi dari perpustakaan. Sepertinya ini teguran bagiku bahwa aku hanyalah manusia yang belum tahu banyak hal. Allah, faghfirlii.Oke, karena esok hari adalah hari yang amat bersejarah bagiku, bagi keluargaku, akan aku ceritakan sebuah kisah, momen yang.....membuatku bisa kuat hingga kini. Aamiin.Dulu ketika ku masih ada dalam pangkuan hangatmuSemoga aku ingat akan momen itu, tapi sayang tidakDulu ketika ku masih ada dalam belaian kasih sayangmu dan  diantara jemari ibuAku rasa aku ingat, tapi ternyata tidakDulu ketika aku mungkin membuatmu untuk terus mengajarkanku merangkak, berjalan, hingga akhirnya tertawaAku mungkin tak ingat, memang ternyata aku tak ingat saat ituBiarpun masa kecilku amat bahagiaBiarpun masa remajaku hanya separuh dalam bersamamuTapi hangatnya terasa, hingga ku kini beranjak dewasaOh Abi, Bapak, Ayah, Abah ...Kini aku tak lagi kecil, adik-adikku punBahkan Ibu sudah tak muda lagiKini aku hanya bisa mengenangDalam sebuah catatan di lembaran doa Empat tahun lalu, laki-laki berkumis itu dengan bahagianya berkata pada setiap orang yang sedang berada di dalam rumah. Dia terlihat seperti mendapatkan sebuah hadiah istimewa yang hanya terjadi satu kali dalam hidupnya. Badannya yang cukup gemuk, rambut ikalnya nampak tidak disisir, dengan tenang berkata,Ah teu nanaon. Damang lah, tuh ning jag-jag keneh Bapak!” (Ah gak apa-apa. Sembuh pastinya. Lihat, ini Bapak terlihat masih sehat-sehat saja).Saat itu, sekitar magrib, setelah Bapak selesai menjalani pemeriksaan Laboratorium, keluarga besar kami berkumpul di rumah untuk menunggu hasil cek lab.Teu nanaon kumaha Bapak, Bapak teu sedih divonis teu damang ginjal?” (Gak apa-apa gimana, Pak? Bapak tidak merasa sedih divonis sakit ginjal?)Laki-laki yang saat itu tengah memakai kemeja kuning pun terseyum. Dia tidak menjawab kembali...........“Dia tidak pernah menunjukkan sisi kelemahan pada siapa pun.”Satu tahun lamanya Bapak berobat ke sana-kemari hingga harus menjalankan cuci darah dua kali dalam seminggu. Dalam satu tahun tersebut, Ibu sangat sangat setia menemani Bapak berobat. Kasih sayangnya, perhatiannya, kesetiaannya, menggambarkan ke-Maha Rahman Rahiim-nya Allah SWT.Di kota Bandung ini, aku tahu, Bapak dan Ibu pernah berkali-kali berobat ke salah satu rumah sakit di sini, bahkan menginap di tempat yang sangat sederhana. Sebuah tempat yang aku kira tidak cocok bagi orang sakit seperti Bapak. Bapak dan Ibu menginap sementara di sebuah kostan kecil, lantainya berkayu, dindingnya agak retak, jauh dari kondisi nyaman.“Sesederhana itukah Bapak dan Ibu dalam menjalani hidup?”

Selama Bapak berada dalam kondisi sakitnya, kami (aku dan ketiga adikku) selalu menyempatkan untuk memegang urat nadinya. Kami tahu Bapak sakit, kami tahu Bapak ingin sekali setiap saat untuk selalu dibelai tangan kakinya, kami tahu Bapak senang bila anak-anaknya memijitnya dengan kasih sayang.Aku raba kulitnya, keras. Aku tatap matanya, pucat. Aku perhatikan bibirnya, biru. Aku pegang perutnya, kembung. Seluruh badannya menghitam. Aku tahu, kondisi seseorang yang terkena penyakit ginjal memang seperti itu.............Saat itu, Ayah duduk di sampingku. Tiba-tiba Ayah memberiku sebuah isyarat. Melalui lisannya ia berkata, “Emh Neng, mun Bapak engke maot daru’akeun nya.”  (Duh Neng, Kalau nanti Bapak wafat, doakan ya).“Oh....”Aku hanya bisa berkata satu kata saja. Pelan. Tak berani aku menatap laki-laki yang baru saja memberiku isyarat krusial tadi............. Saat itu, tepat sekitar satu tahun Ayah menjalani pengobatan. Tidak kunjung sembuh. Badannya makin kurus, hitam, bahkan rambutnya sudah sedikit. Matanya tak tajam lagi, jalannya sudah pelan sekali. Satu dua tiga sudah mulai terdengar kata, “Aduhhhhh sakit.....” Ayahku kesakitan.Sudah sangat sering Bapak keluar masuk Rumah Sakit saat itu. Keluarga, teman-teman Bapak, bahkan tetangga pun selalu menyempatkan diri untuk menemani Bapak di Rumah Sakit. ...........Saat itu lagi. Tanggal 23 Februari 2014, aku baru bisa menemui Bapak pada jam 17.00 WIB. Aku baru selesai menemui wali kelasku karena ada kepentingan kelas. Setelah aku memasuki ruangan di mana Bapak berada, terlihat banyak sekali orang. Terlihat sekali keganjilan pada Bapak. Bapak yang biasanya terlihat biasa saja saat menjalani proses cuci darah, kini terlihat berbeda.Keluarga mengajakku untuk membacakan Surah Yaasiin. Perasaanku masih bingung. Aku sempatkan untuk berbicara dengan Bapak. Namun terlihat tatapannya sudah kosong.“Ketahuilah Oh Bapak. Saat itu aku menyesal. Aku bingung. Engkau tak sempat membalas kata-kataku. Aku tahu engkau sedang merasakan sakit.”Masih dibacakan surah Yaasiin. Segeralah Bapak dibawa ke suatu ruangan. Orang-orang semakin banyak menyaksikan Bapak. Lantunan “Laailaaha IllaAllah” didekatkan ke telinga Bapak.Semua masih membacakan ayat-ayat suci. Aku masih memerhatikan wajah Bapak. Aku raba kakinya, dingin.Seketika, pamanku tiba-tiba menangis.Dan, ternyata kebisuan Bapak saat itu, tidak menyedarkan kami bahwa Bapak sudah tiada. Kami tak tahu nyawa laki-laki kuat itu telah malaikat maut ambil. Innalillahii wainna ilaihi raaji’uun. Begitu kami mengucakan kalimah itu, setelah seorang suster mengatakan bahwa dia sudah tiada.......Allaah, mimpikah aku saat itu? Tidak. Aku yakin. Dengan segera Aku cium wajah Bapak untuk terakhir kalinya. Aku peluk jasad yang tak bernyawa itu dengan erat, lebih erat. Kami (aku, adik, dan sanak keluarga) satu per satu memeluknya. Untuk terakhir kali..........“”Ayah kini kau sudah berada dalam pangkuan-NyaRasakanlah wahai Ayah, rasakanlah wujud kasih sayang-NyaKami merindukanmu dalam pribadimuSederhana, penyayang, motivatorWahai Ayah sang mentor hakikiKini kami menjadi yatimTidak lagi memiliki Ayah selayaknya teman-teman kamiTidak lagi kami bisa mengatakan, “Ayah, aku ingin dibelikan itu”Tidak sempat lagi kami mengatakan, “Ayah, ayo kita diskusi masa depan”Tidak lagi bisa memelukmu, menciummu, menatapmu Ayah, terima kasih.Kami bisa terlahir di dunia indah iniKami bisa hidup sampai kiniWalau tak lama kami bersamamuKami berharap besar wahai AllaahPertemukankami di syurga-Mu nantiWahai Allaah, Tuhan kamiAmpuni dosa-dosa Ibu-Bapak kami

 Waktu menunjukkan pukul 15.28 WIB. Aku cukupkan sepenggal kisah tiga tahun lalu. Saat aku menyendiri di sini, aku tahu, doa-doa lebih utama agar kupanjatkan kepada-Nya. Aku harus segera shalat Ashar.  Tugas kuliah harus segera terselesaikan.Bapak, Mamah, Gina, De Lia, De Indah... Eneng cinta karena Allaah.Bandung, 22 Februari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar