Aku Ingin
Berqurban
Karena pengorbanan itu dicontohkan
Oleh Siti Hajar tidak lelah mencari air zam-zam
Karena pengorbanan itu dicontohkan
Oleh Ibrahim yang yakin akan perintah Tuhan
Karena pengorbanan itu dicontohkan
Oleh Ismail yang tidak pernah menyalahkan
Meskipun kita tak kan pernah bisa
Melebihi perjuangan Siti Hajar sebagai Ibu
Melebihi keteladanan
Ibrahim sebagai Ayah
Melebihi kepatuhan Ismail sebagai Anak
Tapi berkorbanlah dalam hal apa saja
Asal ikhlas
Qurban dan Korban, dua kosakata yang hampir sama
ketika didengar tetapi berbeda dalam penulisan (homophone). Dua ‘kata’ ini membuat Saya penasaran, “Apakah makna
‘berqurban’ sama saja dengan ‘berkorban’? Apakah pengorbanan termasuk ‘qurban’
juga? Atau jangan-jangan berqurban sama saja dengan rela berkorban?”. Sepertinya ini menarik untuk dibahas karena
begitu uniknya kedua kosakata ini.
Antara Berqurban dan Berkorban
Dalam
bahasa Arab, kata ‘Qurban’ berasal dari Qaraba-Yaqribu-Qarban
yang berarti dekat. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
korban adalah pemberian untuk menyatakan kebaktian, kesetiaan, dsb. Berkorban,
menyatakan kebaktian, kesetiaan, dsb. Dari
kedua makna tersebut, Saya menyimpulkan bahwa berqurban sama saja dengan
berkorban. Hanya, konteksnya saja yang berbeda. Berqurban merupakan perbuatan
yang bernilai ibadah secara langsung. Tetapi berkorban, belum tentu bernilai
ibadah, tergantung kepada siapa seseorang berkorban.
Al-Qur’an memuat banyak istilah
‘qurban’. Dalam QS. Al-Kautsar ayat 2, Allah SWT berfirman:
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan
berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).” (QS 108:2)
Berdasarkan ayat tersebut, jelaslah
bahwa berqurban merupakan ibadah dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Secara terminologis, berqurban adalah
menyembelih ‘hewan qurban’ pada Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah)
sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Tampaknya, tidak sedikit orang yang masih
keliru antara makna qurban dan korban. Tetapi dalam hal ini, Saya berpendapat
bahwa ada korelasi nonverbal antara kedua kata tersebut. Bukan perihal makna
secara bahasa, tetapi hikmah qurban terhadap pengorbanan.
Hikmah Berqurban
Tidak ada sesuatu pun yang Allah ciptakan tanpa
hikmah. Apalagi tentang ibadah. Banyak sekali rahasia dan hikmah dalam setiap
perintah-Nya. Berqurban merupakan salah satu bentuk ketaatan pada Allah. Karena
dalam berqurban, seorang hamba tidak hanya sekedar menyembelih hewan qurban,
tetapi menyerahkan jiwa, raga, dan harta demi menggapai keridaan-Nya adalah
esensi berqurban yang sebenarnya.
“Daging-daging
dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi
ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah
menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya
kepada kamu dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. 22:37)
Berqurban merupakan wujud rasa
syukur seorang hamba pada Allah, Rabb Yang Maha Pemberi Rizki. Dalam berqurban,
seorang hamba mengeluarkan sebagian hartanya di jalan Allah. Semua orang
memiliki perasaan yang sama, bahagia atas rezeki yang Allah berikan. Bahkan,
seseorang yang biasanya jarang memakan daging, akhirnya bisa merasakan
kelezatan rizki Tuhan (salah satunya daging) di Hari Raya Idul Adha. Sungguh,
di sinilah salah satu bentuk keindahan islam bagi seluruh umat manusia dan
semesta.
Hikmah lainnya dari berqurban adalah
merasakan perjuangan dan pengorbanan
Nabi Kekasih Allah, Ibrahim AS dan puteranya, Ismail AS. Sejarah mencatat bahwa
betapa taatnya Nabi Ismail yang rela dan yakin atas perintah Allah. Begitu pula
Ayahnya, Nabi Ibrahim, adalah hamba Allah yang taat dan tidak mengikuti
langkah-langkah setan. Perintah Allah kepada Ibrahim untuk menyembelih Ismail
ternyata merupakan sebuah ujian ketaatan. Dan Allah pun menggantikan Ismail
yang tengah akan disembelih dengan seekor biri.biri. Maasyaa’ Allah...
Aku Ingin Berqurban
Pemaparan di atas tentang berqurban, memotivasi Saya
untuk ingin berqurban. Meskipun masih berupa cita-cita (belum dapat diwujudkan),
Saya yakin suatu saat nanti, Saya bisa berqurban atas kehendak Allah. Melalui
tulisan sederhana ini, Saya menuliskan cita-cita berqurban agar bisa didoakan
oleh teman-teman. Aamiin.
Saya ingin sedikit berbagi cerita
tentang ambisi orang-orang di sekitar Saya di momen Idul Adha tahun ini.
Pertama, propaganda kakak-kakak Gamais yang kece
abis untuk mengajak mahasiswa ITB
berqurban. Propaganda ini menjadikan Reminder
bagi Saya khususnya, yang selama ini ternyata lengah terhadap mimpi tahun lalu
di saat Saya bertekad untuk berqurban di tahun 2014.
Kedua,
kelengahan Saya terhadap mimpi berqurban di tahun ini dijebak dengan sebuah
“kencleng” bertuliskan ajakan berqurban dari kakak-kakak KAMIL (Keluarga
Mahasiswa Islam Teknik Lingkungan). Setiap harinya, sebuah amplop diedarkan ke
kelas Saya (Teknik Lingkungan 2013). Lagi-lagi, amplop ini seperti sebuah
teguran atas kelengahan Saya. H-7 Idul Adha, amplop KAMIL tersebut berubah
menjadi sebuah kantong seperti tempat pensil dengan tulisan pengingat UTS yang
sudah dekat. Hmmmm UTS..... Mungkin ini bisa menjadi jalan hikmah kemudahan
dalam menjalani UTS. Momen ajakan berqurban melalui sebuah amplop tersebut pun
membuat beberapa teman Saya tertarik untuk berqurban bahkan penasaran dengan
ibadah qurban itu seperti apa.
Ketiga, panggilan ibadah yang selama beberapa hari
ini Saya lengahkan, ternyata diingatkan melalui sebuah pesan singkat ajakan
menulis kisah inspiratif tentang berqurban. Semoga ini menjadi penguat tekad
Saya agar di tahun berikutnya, agar Saya tidak lengah dalam mewujudkan mimpi,
salah satunya mimpi berqurban.
Itulah
beberapa hal yang Saya rasakan di momen Idul Adha tahun ini. Meskipun mimpi
berqurban belum dikehendaki-Nya, setidaknya Saya diingatkan oleh semangat
orang-orang sekitar yang memiliki ambisi untuk meraih keridaan-Nya dengan
berqurban. Satu hal yang paling esensial dari berqurban, adalah keikhlasan
sebagai parameter apakah pengorbanan kita akan menjadi ibadah atau tidak. Tidak
hanya #Ikhlasberqurban tetapi ikhlas berkorban dalam menjemput taqdir-Nya,
kapan Saya bisa berqurban atas hasil jerih payah sendiri. Mudah-mudahan Allah
menghendaki dan pasti menghendaki. Aamiin...
Bandung, 2
Oktober 2014
Hanifah
Nurawaliah
15313051
BIODATA DIRI
NAMA :
HANIFAH NURAWALIAH
NIM :
15313051
JURUSAN :
TEKNIK LINGKUNGAN ITB
TTL :
TASIKMALAYA, 11 FEBRUARI 1995
ALAMAT :
JL TAMAN SARI 33B/56
NO HP :
08977485189
: