Jumat, 17 Oktober 2014

Aku Ingin Berqurban

Aku  Ingin Berqurban

Karena pengorbanan itu dicontohkan
Oleh Siti Hajar tidak lelah mencari air zam-zam
Karena pengorbanan itu dicontohkan
Oleh Ibrahim yang yakin akan  perintah Tuhan
Karena pengorbanan itu dicontohkan
Oleh Ismail yang tidak pernah menyalahkan
Meskipun kita tak kan pernah bisa
Melebihi perjuangan Siti Hajar sebagai Ibu
Melebihi keteladanan  Ibrahim sebagai Ayah
Melebihi kepatuhan Ismail sebagai Anak
Tapi berkorbanlah dalam hal apa saja
Asal ikhlas

Qurban dan Korban, dua kosakata yang hampir sama ketika didengar tetapi berbeda dalam penulisan (homophone). Dua ‘kata’ ini membuat Saya penasaran, “Apakah makna ‘berqurban’ sama saja dengan ‘berkorban’? Apakah pengorbanan termasuk ‘qurban’ juga? Atau jangan-jangan berqurban sama saja dengan rela berkorban?”.  Sepertinya ini menarik untuk dibahas karena begitu uniknya kedua kosakata ini.
Antara Berqurban dan Berkorban
Dalam bahasa Arab, kata ‘Qurban’ berasal dari Qaraba-Yaqribu-Qarban yang berarti dekat. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), korban adalah pemberian untuk menyatakan kebaktian, kesetiaan, dsb. Berkorban, menyatakan kebaktian, kesetiaan, dsb. Dari  kedua makna tersebut, Saya menyimpulkan bahwa berqurban sama saja dengan berkorban. Hanya, konteksnya saja yang berbeda. Berqurban merupakan perbuatan yang bernilai ibadah secara langsung. Tetapi berkorban, belum tentu bernilai ibadah, tergantung kepada siapa seseorang berkorban.
            Al-Qur’an memuat banyak istilah ‘qurban’. Dalam QS. Al-Kautsar ayat 2, Allah SWT berfirman:
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).” (QS 108:2)

            Berdasarkan ayat tersebut, jelaslah bahwa berqurban merupakan ibadah dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Secara terminologis, berqurban adalah  menyembelih ‘hewan qurban’ pada Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah) sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Tampaknya, tidak sedikit orang yang masih keliru antara makna qurban dan korban. Tetapi dalam hal ini, Saya berpendapat bahwa ada korelasi nonverbal antara kedua kata tersebut. Bukan perihal makna secara bahasa, tetapi hikmah qurban terhadap pengorbanan.

Hikmah Berqurban
            Tidak ada sesuatu pun yang Allah ciptakan tanpa hikmah. Apalagi tentang ibadah. Banyak sekali rahasia dan hikmah dalam setiap perintah-Nya. Berqurban merupakan salah satu bentuk ketaatan pada Allah. Karena dalam berqurban, seorang hamba tidak hanya sekedar menyembelih hewan qurban, tetapi menyerahkan jiwa, raga, dan harta demi menggapai keridaan-Nya adalah esensi berqurban yang sebenarnya.
            “Daging-daging dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. 22:37)
            Berqurban merupakan wujud rasa syukur seorang hamba pada Allah, Rabb Yang Maha Pemberi Rizki. Dalam berqurban, seorang hamba mengeluarkan sebagian hartanya di jalan Allah. Semua orang memiliki perasaan yang sama, bahagia atas rezeki yang Allah berikan. Bahkan, seseorang yang biasanya jarang memakan daging, akhirnya bisa merasakan kelezatan rizki Tuhan (salah satunya daging) di Hari Raya Idul Adha. Sungguh, di sinilah salah satu bentuk keindahan islam bagi seluruh umat manusia dan semesta.
            Hikmah lainnya dari berqurban adalah  merasakan perjuangan dan pengorbanan Nabi Kekasih Allah, Ibrahim AS dan puteranya, Ismail AS. Sejarah mencatat bahwa betapa taatnya Nabi Ismail yang rela dan yakin atas perintah Allah. Begitu pula Ayahnya, Nabi Ibrahim, adalah hamba Allah yang taat dan tidak mengikuti langkah-langkah setan. Perintah Allah kepada Ibrahim untuk menyembelih Ismail ternyata merupakan sebuah ujian ketaatan. Dan Allah pun menggantikan Ismail yang tengah akan disembelih dengan seekor biri.biri. Maasyaa’ Allah...
Aku Ingin Berqurban
            Pemaparan di atas tentang berqurban, memotivasi Saya untuk ingin berqurban. Meskipun masih berupa cita-cita (belum dapat diwujudkan), Saya yakin suatu saat nanti, Saya bisa berqurban atas kehendak Allah. Melalui tulisan sederhana ini, Saya menuliskan cita-cita berqurban agar bisa didoakan oleh teman-teman. Aamiin.
            Saya ingin sedikit berbagi cerita tentang ambisi orang-orang di sekitar Saya di momen Idul Adha tahun ini. Pertama, propaganda kakak-kakak Gamais yang kece abis untuk mengajak mahasiswa ITB berqurban. Propaganda ini menjadikan Reminder bagi Saya khususnya, yang selama ini ternyata lengah terhadap mimpi tahun lalu di saat Saya bertekad untuk berqurban di tahun 2014.
Kedua, kelengahan Saya terhadap mimpi berqurban di tahun ini dijebak dengan sebuah “kencleng” bertuliskan ajakan berqurban dari kakak-kakak KAMIL (Keluarga Mahasiswa Islam Teknik Lingkungan). Setiap harinya, sebuah amplop diedarkan ke kelas Saya (Teknik Lingkungan 2013). Lagi-lagi, amplop ini seperti sebuah teguran atas kelengahan Saya. H-7 Idul Adha, amplop KAMIL tersebut berubah menjadi sebuah kantong seperti tempat pensil dengan tulisan pengingat UTS yang sudah dekat. Hmmmm UTS..... Mungkin ini bisa menjadi jalan hikmah kemudahan dalam menjalani UTS. Momen ajakan berqurban melalui sebuah amplop tersebut pun membuat beberapa teman Saya tertarik untuk berqurban bahkan penasaran dengan ibadah qurban itu seperti apa.
Ketiga,  panggilan ibadah yang selama beberapa hari ini Saya lengahkan, ternyata diingatkan melalui sebuah pesan singkat ajakan menulis kisah inspiratif tentang berqurban. Semoga ini menjadi penguat tekad Saya agar di tahun berikutnya, agar Saya tidak lengah dalam mewujudkan mimpi, salah satunya mimpi berqurban.
Itulah beberapa hal yang Saya rasakan di momen Idul Adha tahun ini. Meskipun mimpi berqurban belum dikehendaki-Nya, setidaknya Saya diingatkan oleh semangat orang-orang sekitar yang memiliki ambisi untuk meraih keridaan-Nya dengan berqurban. Satu hal yang paling esensial dari berqurban, adalah keikhlasan sebagai parameter apakah pengorbanan kita akan menjadi ibadah atau tidak. Tidak hanya #Ikhlasberqurban tetapi ikhlas berkorban dalam menjemput taqdir-Nya, kapan Saya bisa berqurban atas hasil jerih payah sendiri. Mudah-mudahan Allah menghendaki dan pasti menghendaki. Aamiin...
Bandung, 2 Oktober 2014
Hanifah Nurawaliah
15313051

BIODATA DIRI
NAMA            : HANIFAH NURAWALIAH
NIM                : 15313051
JURUSAN      : TEKNIK LINGKUNGAN ITB
TTL                 : TASIKMALAYA, 11 FEBRUARI 1995
ALAMAT       : JL TAMAN SARI 33B/56
NO HP                        : 08977485189
EMAIL           : hnurawaliah@gmail.com






:

            

Minggu, 23 Februari 2014

Sepenggal Kisah Tiga Tahun Lalu


Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 WIB. Aku masih belum menyempatkan untuk pulang ke kostan dari acara angkatan, malam keakraban FTSL. Meski tubuhku sudah lelah, namun pikiranku masih tidak tertuju pada tempat yang amat nyaman untuk bisa beristirahat dengan tenang. Ya, kasur empuk yang cocok sekali jadi teman di saat kondisi tubuh sudah capek. Aku langsung menuju sebuah tempat yang menenagkan hati, Masjid Salman ITB. Sepertinya hari ini banyak yang harus aku lakukan, Aku tak mau bermalas-malasan. Tugas kuliah pun menanti untuk segera dikerjakan. Namun aku teringat pada satu hal, 23 Februari 2014.Sebelum aku tiba di Masjid Salman untuk melaksanakan shalat Dzhuhur, HP-ku berdering. Kulihat layar HP, Ibuku mengirimkan sebuah SMS kepadaku. Isinya, “De Indah Sakit”. Hari-hari ini memang keluargaku di Tasikmalaya banyak yang sedang Allah uji melalui sakit. Informasi dari Ibu membuatku ingin sekali bertemu dengan keuargaku di sana, melepas rindu walaupun baru satu bulan aku kembali ke perantauan ilmu.Tak lupa pula aku melihat kalender di HP-ku, tertulis tanggal 22 Februari 2014. Tepat satu hari sebelum dulu, 2011, Bapakku wafat. Terketuklah hatiku untuk menuliskan sebuah tulisan mengenai kisah tiga tahun lalu. Akhirnya, pukul 14.00, aku mengasingkan diri ke perpustakaan Masjid Salman, tempat yang belum aku singgahi sebelumnya. Keinginan untuk pulang ke kostan, saya lupakan saja. Karena, hujan ternyata kembali menyapa hari-hariku. Dalam hati,“Oh hujan, aku tahu engkau makhluk cipataan Allah Yang Mahakuasa. Semoga Allah mengirimi ummat melalui keberkahan hujan ini.”Aku tidak mau sia-sia hari ini. Keinginan untuk selalu berbagi melalui sebuah tulisan, akhirnya mulai aku lakukan. Perpustakaan Salman, menjadi saksi kebisuan aku di tengah keramaian suasana kampus dalam berbagai kegiatan (ITB day, Ganesha Film Festival).Aku menulis di meja yang berhadapan dengan buku-buku luar biasa. Ada buku-buku tentang Imam 4 Mazhab, Novel, Buku berjudul Daulah Bani Saljuk, dan lain-lain, seakan-akan menjeratku untuk tidak segera pergi dari perpustakaan. Sepertinya ini teguran bagiku bahwa aku hanyalah manusia yang belum tahu banyak hal. Allah, faghfirlii.Oke, karena esok hari adalah hari yang amat bersejarah bagiku, bagi keluargaku, akan aku ceritakan sebuah kisah, momen yang.....membuatku bisa kuat hingga kini. Aamiin.Dulu ketika ku masih ada dalam pangkuan hangatmuSemoga aku ingat akan momen itu, tapi sayang tidakDulu ketika ku masih ada dalam belaian kasih sayangmu dan  diantara jemari ibuAku rasa aku ingat, tapi ternyata tidakDulu ketika aku mungkin membuatmu untuk terus mengajarkanku merangkak, berjalan, hingga akhirnya tertawaAku mungkin tak ingat, memang ternyata aku tak ingat saat ituBiarpun masa kecilku amat bahagiaBiarpun masa remajaku hanya separuh dalam bersamamuTapi hangatnya terasa, hingga ku kini beranjak dewasaOh Abi, Bapak, Ayah, Abah ...Kini aku tak lagi kecil, adik-adikku punBahkan Ibu sudah tak muda lagiKini aku hanya bisa mengenangDalam sebuah catatan di lembaran doa Empat tahun lalu, laki-laki berkumis itu dengan bahagianya berkata pada setiap orang yang sedang berada di dalam rumah. Dia terlihat seperti mendapatkan sebuah hadiah istimewa yang hanya terjadi satu kali dalam hidupnya. Badannya yang cukup gemuk, rambut ikalnya nampak tidak disisir, dengan tenang berkata,Ah teu nanaon. Damang lah, tuh ning jag-jag keneh Bapak!” (Ah gak apa-apa. Sembuh pastinya. Lihat, ini Bapak terlihat masih sehat-sehat saja).Saat itu, sekitar magrib, setelah Bapak selesai menjalani pemeriksaan Laboratorium, keluarga besar kami berkumpul di rumah untuk menunggu hasil cek lab.Teu nanaon kumaha Bapak, Bapak teu sedih divonis teu damang ginjal?” (Gak apa-apa gimana, Pak? Bapak tidak merasa sedih divonis sakit ginjal?)Laki-laki yang saat itu tengah memakai kemeja kuning pun terseyum. Dia tidak menjawab kembali...........“Dia tidak pernah menunjukkan sisi kelemahan pada siapa pun.”Satu tahun lamanya Bapak berobat ke sana-kemari hingga harus menjalankan cuci darah dua kali dalam seminggu. Dalam satu tahun tersebut, Ibu sangat sangat setia menemani Bapak berobat. Kasih sayangnya, perhatiannya, kesetiaannya, menggambarkan ke-Maha Rahman Rahiim-nya Allah SWT.Di kota Bandung ini, aku tahu, Bapak dan Ibu pernah berkali-kali berobat ke salah satu rumah sakit di sini, bahkan menginap di tempat yang sangat sederhana. Sebuah tempat yang aku kira tidak cocok bagi orang sakit seperti Bapak. Bapak dan Ibu menginap sementara di sebuah kostan kecil, lantainya berkayu, dindingnya agak retak, jauh dari kondisi nyaman.“Sesederhana itukah Bapak dan Ibu dalam menjalani hidup?”

Selama Bapak berada dalam kondisi sakitnya, kami (aku dan ketiga adikku) selalu menyempatkan untuk memegang urat nadinya. Kami tahu Bapak sakit, kami tahu Bapak ingin sekali setiap saat untuk selalu dibelai tangan kakinya, kami tahu Bapak senang bila anak-anaknya memijitnya dengan kasih sayang.Aku raba kulitnya, keras. Aku tatap matanya, pucat. Aku perhatikan bibirnya, biru. Aku pegang perutnya, kembung. Seluruh badannya menghitam. Aku tahu, kondisi seseorang yang terkena penyakit ginjal memang seperti itu.............Saat itu, Ayah duduk di sampingku. Tiba-tiba Ayah memberiku sebuah isyarat. Melalui lisannya ia berkata, “Emh Neng, mun Bapak engke maot daru’akeun nya.”  (Duh Neng, Kalau nanti Bapak wafat, doakan ya).“Oh....”Aku hanya bisa berkata satu kata saja. Pelan. Tak berani aku menatap laki-laki yang baru saja memberiku isyarat krusial tadi............. Saat itu, tepat sekitar satu tahun Ayah menjalani pengobatan. Tidak kunjung sembuh. Badannya makin kurus, hitam, bahkan rambutnya sudah sedikit. Matanya tak tajam lagi, jalannya sudah pelan sekali. Satu dua tiga sudah mulai terdengar kata, “Aduhhhhh sakit.....” Ayahku kesakitan.Sudah sangat sering Bapak keluar masuk Rumah Sakit saat itu. Keluarga, teman-teman Bapak, bahkan tetangga pun selalu menyempatkan diri untuk menemani Bapak di Rumah Sakit. ...........Saat itu lagi. Tanggal 23 Februari 2014, aku baru bisa menemui Bapak pada jam 17.00 WIB. Aku baru selesai menemui wali kelasku karena ada kepentingan kelas. Setelah aku memasuki ruangan di mana Bapak berada, terlihat banyak sekali orang. Terlihat sekali keganjilan pada Bapak. Bapak yang biasanya terlihat biasa saja saat menjalani proses cuci darah, kini terlihat berbeda.Keluarga mengajakku untuk membacakan Surah Yaasiin. Perasaanku masih bingung. Aku sempatkan untuk berbicara dengan Bapak. Namun terlihat tatapannya sudah kosong.“Ketahuilah Oh Bapak. Saat itu aku menyesal. Aku bingung. Engkau tak sempat membalas kata-kataku. Aku tahu engkau sedang merasakan sakit.”Masih dibacakan surah Yaasiin. Segeralah Bapak dibawa ke suatu ruangan. Orang-orang semakin banyak menyaksikan Bapak. Lantunan “Laailaaha IllaAllah” didekatkan ke telinga Bapak.Semua masih membacakan ayat-ayat suci. Aku masih memerhatikan wajah Bapak. Aku raba kakinya, dingin.Seketika, pamanku tiba-tiba menangis.Dan, ternyata kebisuan Bapak saat itu, tidak menyedarkan kami bahwa Bapak sudah tiada. Kami tak tahu nyawa laki-laki kuat itu telah malaikat maut ambil. Innalillahii wainna ilaihi raaji’uun. Begitu kami mengucakan kalimah itu, setelah seorang suster mengatakan bahwa dia sudah tiada.......Allaah, mimpikah aku saat itu? Tidak. Aku yakin. Dengan segera Aku cium wajah Bapak untuk terakhir kalinya. Aku peluk jasad yang tak bernyawa itu dengan erat, lebih erat. Kami (aku, adik, dan sanak keluarga) satu per satu memeluknya. Untuk terakhir kali..........“”Ayah kini kau sudah berada dalam pangkuan-NyaRasakanlah wahai Ayah, rasakanlah wujud kasih sayang-NyaKami merindukanmu dalam pribadimuSederhana, penyayang, motivatorWahai Ayah sang mentor hakikiKini kami menjadi yatimTidak lagi memiliki Ayah selayaknya teman-teman kamiTidak lagi kami bisa mengatakan, “Ayah, aku ingin dibelikan itu”Tidak sempat lagi kami mengatakan, “Ayah, ayo kita diskusi masa depan”Tidak lagi bisa memelukmu, menciummu, menatapmu Ayah, terima kasih.Kami bisa terlahir di dunia indah iniKami bisa hidup sampai kiniWalau tak lama kami bersamamuKami berharap besar wahai AllaahPertemukankami di syurga-Mu nantiWahai Allaah, Tuhan kamiAmpuni dosa-dosa Ibu-Bapak kami

 Waktu menunjukkan pukul 15.28 WIB. Aku cukupkan sepenggal kisah tiga tahun lalu. Saat aku menyendiri di sini, aku tahu, doa-doa lebih utama agar kupanjatkan kepada-Nya. Aku harus segera shalat Ashar.  Tugas kuliah harus segera terselesaikan.Bapak, Mamah, Gina, De Lia, De Indah... Eneng cinta karena Allaah.Bandung, 22 Februari 2014

Sabtu, 08 Februari 2014

Melalui Teknologi Kelautan, Sambut Indonesia Sejahtera di Era Komunitas ASEAN 2015


Indonesia, selain dijuluki sebagai negara kepulauan terbesar di dunia (archipelago state), juga dijuluki sebagai negara maritim. Julukan tersebut muncul karena luas perairan Indonesia yang melebihi luas daratan. Luas daratan Indonesia hanya 1,9 juta km2, sedangkan luas perairannya 7.9 juta km2. Perairan Indonesia memberikan kontribusi tiga perempat dari seluruh wilayah Indonesia, mencakup laut teritorial terluas di dunia (3,2 juta km²), belum termasuk 2,9 juta km² perairan zona ekonomi eksklusif yang terluas ke-12 di dunia, dan 95.108 km garis pantai yang terpanjang kelima di dunia. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa negara Indonesia memiliki potensi bahari yang sangat melimpah.
Sebagaimana kita tahu bahwa Komunitas ASEAN akan dibentuk pada tahun 2015, lima tahun lebih cepat dari kesepakatan awal. Komunitas ASEAN 2015 tersebut terbagi dalam tiga pilar, yaitu Komunitas Keamanan ASEAN, Komunitas Ekonomi ASEAN dan Komunitas Sosial-Budaya ASEAN. Komunitas ASEAN 2015 merupakan tantangan yang sangat besar bagi Indonesia. Sebagai gambaran, di tahun 2015 mendatang, bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya akan terintegrasikan dalam satu komunitas tunggal ASEAN. Siap tidak siap, sebagai anggota ASEAN, Indonesia harus siap menghadapi tantangan besar ini.
Salah satu ancaman besar di era 2015 mendatang adalah ancaman perairan laut Indonesia. Posisi perairan Indonesia yang strategis di Asia Tenggara merupakan modal besar bagi kemajuan Indonesia untuk era Komunitas Bebas ASEAN 2015. Modal tersebut harus dijaga dan dioptimalisasikan dengan baik, mengingat perairan Indonesia secara jelas akan digunakan sebagai salah satu akses lalu lintas antara Indonesia dengan negara-negara lain di ASEAN.
Kondisi perairan Indonesia merupakan salah satu determinan suksesnya bangsa kita dalam menghadapi tantangan global, salah satunya Komunitas ASEAN 2015. Kecenderungan dunia yang semakin menyatu dengan berlakunya komunitas bebas tersebut membutuhkan dukungan dari segala sistem. Salah satunya ialah sistem transportasi sebagai akses penghubung antar negara di ASEAN. Di sinilah peran aplikasi teknologi kelautan sangat dibutuhkan dalam rangka mendukung segala sistem melalui infrastruktur kelautan. Tidak hanya di bidang transportasi, teknik kelautan pun berperan penting dalam menjaga segala sumber daya laut beserta pengolahannya secara optimal dan berkelanjutan (sustainable).
Apa aplikasi bidang keilmuan teknik kelautan untuk kemajuan Indonesia di era Komunitas ASEAN 2015? Berikut ini akan dijelaskan mengenai aplikasi teknologi kelautan yang akan mendukung terciptanya ketiga pilar Komunitas ASEAN 2015 bagi kesejahteraan Indonesia.
Sebagai negara maritim dimana luas wilayah didominasi oleh perairan, dibutuhkan “alutsista” untuk menjaga kedaulatan negara di lautan. Kebutuhan akan kapal-kapal perang untuk keperluan patroli maupun perang menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar lagi. Hal ini harus didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi mengenai produk pertahanan dan keamanan maritim. Sebagai contoh, salah satu aplikasi teknik kelautan di bidang teknik perkapalan yaitu teknologi radar navigasi untuk kebutuhan berlayar, kemudian radar pantai untuk menjaga pantai, serta sistem senjata combat management system. Berdasarkan informasi dari media, Kementerian Ristek, dengan LIPI dan ITB telah berhasil mengembangkan teknologi tersebut. Teknologi tentu harus terus dikembangkan sebagai langkah persiapan Indonesia menghadapi Komunitas Keamanan ASEAN 2015.
Dalam menghadapi pilar Komunias ASEAN yang kedua, Asean Economic Community (AEC) atau Komunitas Ekonomi ASEAN 2015, teknologi kelautan sangat berperan penting dalam rangka mendukung terciptanya kondisi tersebut. Salah satu permasalahan urgent yang berkaitan dengan ekonomi adalah akses pasar. Jalur transaksi pasar bebas ASEAN 2015 tentu menggunakan perairan laut sebagai akses. Dalam hal ini, peran teknologi kelautan sangat dibutuhkan, terutama dalam hal penyediaan infrastruktur pantai maupun lepas pantai. Gedung di pinggir laut, dermaga, dan pelabuhan sangat dibutuhkan untuk membantu proses perdagangan. Kini, Kementerian Republik Indonesia akan membentuk era Industrialisasi Kelautan dan Perikanan dengan pendekatan blue economy. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melihat penerapan blue economy paralel dengan persiapan Indonesia menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) 2015. Di sinilah aplikasi teknik kelautan digunakan, baik dalam hal penyediaan infrastruktur maupun sumber energi alternatif dalam proses industri. Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut, merupakan salah satu teknologi penyediaan energi alternatif yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri maupun kebutuhan lainnya. Dengan mengoptimalkan teknologi kelautan tersebut, Indonesia harus siap menghadapi tantangan Komunitas Ekonomi ASEAN 2015.
Peran insinyur kelautan sangat dibutuhkan dalam rangka membentuk pilar Komunitas ASEAN 2015 yang ketiga, yakni Komunitas Sosial-Budaya ASEAN 2015. Melalui kompetensi para insinyur kelautan, berbagai komunitas sosial mengenai kelautan akan terbentuk. Tidak hanya itu, para insinyur kelautan akan menjadi role model bagi semua pihak dalam menjaga sumber daya laut sebagai kekayaan bangsa. Oleh karena itu, dengan “menjamurnya” para insinyur kelautan di Indonesia, potensi terjaganya wilayah perairan dalam menghadapi Komunitas Sosial-Budaya ASEAN 2015 akan lebih efektif, mengingat bahwa di tangan para rekayasawanlah tantangan akan dijawab.
Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwa teknologi kelautan merupakan modal yang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan di era Komunitas ASEAN 2015. Potensi bahari Indonesia yang sangat melimpah tentunya harus dijaga dan dioptimalkan dengan baik, salah satunya melalui aplikasi bidang teknik kelautan. Setiap komponen masyarakat Indonesia harus melakukan langkah persiapan untuk menghadapi tantangan Komunitas ASEAN 2015. Khususnya mahasiswa, sebagai agent of change, role model, dan iron stock, harus bisa menjawab tantangan masa depan. Melalui teknik kelautan, sambut Komunitas Bebas ASEAN 2015, Sambut Indonesia Sejahtera.
Oleh: Hanifah Nurawaliah (16613087)
Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB 2013
Untuk Frontier KMKL ITB 2014


Referensi:

Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. 2011. Kelautan dan Perikanan dalam Angka. Diakses pada 8 Februari 2014. http://statistik.kkp.go.id/index.php/arsip/file/37/kpda11_ok_r06_v02.pdf/
Humas Riset dan Teknologi. 2010. Public Corner: Peran SDM Iptek dalam Riset Hankam. Diakses pada 8 Februari 2014. http://ristek.go.id/?module=News+News&id=7506

Diakses pada 8 Februari 2014.http://id.wikipedia.org/wiki/Wawasan_2020_ASEAN

Jumat, 20 Desember 2013

Summary Analysis Essay
(This Essay as the exercise in order to increase my Skill in Critical Reading)
In his article entitled “Should Woman Work Outside The Home?”, Mohammd Akade Osman shows us that women should not work outside the home. Osman states that having women work outside the home is morally wrong from a religious point of view. Furthermore, it can destroy as we see in jobs. In my opinion, I disagree with Osmans statement that attending women in society can make the problems. In his article, Osman views explicity about women who work outside the home with many reasons. But I do not find the main point of other reason positively about this case so that there is no solution which appear from Osmans idea. Therefore, in this essay, I will state my opinion about this case.
Osman thinks that in religious view, all the heavenly books such as Bible and Koran are clear about woman’s place in the world. From my experience since i have learned religions matter, yes, it s true that God made women specially. For example, woman must to keep obidience to her husband. But, it is mean that no reason for women to close herself from dinamic world. Everyone, either man or women should work for their family. According to my reason, women is not banned to work outside home provided that her job still affluent.
The author makes a statement about the partership between men and women based on God’s law. For this statement, I agree. According to the Authors claim that it is the duty of the man to provide a secure shelter for the woman, especially for her financial. It is true that man has a larger duty than women. But, if we see in fact recently, for a single parent who only woman and her children in family, should she not to work outside the home? Certainly she should work to fulfill her family necessary.
Osman makes a powerful point about the destroying of society because women entered there. I really disagree. In jobs, if men can increase her capability, he never lose his job though women was attend. And in family life, women will not make problems unless there is no commitment between wife and husband in managing their family. Occasionaly, if woman does not work outside home, she feel bored so that this situation make family unstable.

I also disagree that women who work outside home can bring the degradation and loss morals in society. I think there is no relation whether men or women if they are make collaboration in society. In recent years, “Emansipasi” is very important. Is not it?
In summary, women is a part of social member. She should get her career provided that she can manage her home profesionally.  Hence, for women, please get the job outside unless it is not burdenly.

Minggu, 01 Desember 2013

Menuju Menara
 Berbicara tentang masa depan,  bagi saya, harus diawali dengan niat yang tulus. Saya tahu bahwa ketulusan adalah motivasi terbesar yang akan menggerakkan langkah saya selanjutnya. Kuliah, bagi saya adalah tangga menuju menara kehidupan. Saya dulu bermimpi untuk bisa masuk dalam dunia menara perkuliahan. Saya harus tahu bahwa saya tidak akan sampai pada menara itu, bahkan tangganya sekalipun, jika tanpa sebuah jembatan yang kokoh. Karena bagi saya, menara itu sangat tinggi, jauh, dan melewati bahari yang berarus. Dan masa depan, adalah taruhan. Banyak sekali tantangan bahkan godaan yang akan menerjang. Oleh karena itu, saya harus berusaha membangun jembatan yang kokoh namun penuh dengan hiasan ornamen yang menjanjikan. Apa itu?
Jembatan itu adalah kehidupan remaja yang penuh dengan cerita
Saya masih ingat kata-kata bijak guru saya, “SMA itu hanya jembatan yang akan membantu kalian untuk melaju ke langkah yang selanjutnya, langkah yang lebih hebat, yakni dunia perkuliahan, bahkan dunia pekerjaan.” Bagaimana dengan sekolah menengah sederajat lainnya? Tentu sama saja bukan? Di sini saya tidak akan membedakan apakah jembatan yang saya maksudkan adalah kehidupan SMA, SMK, atau Madrasah Aliyah. Namun, jembatan itu adalah masa remaja yang penuh dengan cerita.
Ketika awal saya menempuh pendidikan di sekolah menegah atas, saya belum terpikirkan untuk apa saya sekolah lagi. Sekedar untuk formalitas saja tepatnya. Namun, saya ingat ketika saya membaca tulisan di papan tulis-mungkin saat itu saya duduk di kelas sementara bekas kakak kelas 11- yang bertuliskan seperti ini: UI, UGM, ITB, Unpad, Unsil, UPI, STAN, dll. Saya yang saat itu masih polos (baru kelas 10) mulai mengerucutkan kening saya. “Kok SMA kelas 11 udah mikir kuliah sih? Emang perlu banget gitu ya lanjutin kuliah?”, kata saya dalam hati.
Kapan saya mulai mengokohkan jembatan saya?
Saat itu saya sedang menonton acara televisi program “Satu Jam Lebih Dekat” yang kebetulan tokohnya adalah alumni ITB. Tiba-tiba Ayah saya berbicara seperti ini, “Neng, pami resep elmu eksak, ka ITB we. Tuh siga tokoh eta.” Saya tidak segera merespon perkataan Ayah tersebut. Saya hanya terdiam dan bahkan merasa gentar mendengar kata ITB.
Waktu berlalu, dan tibalah 23 Februari 2011. Saya harus memulai masa remaja ini dengan ujian yang sangat berat. Ayah saya, saat itu Allah panggil kepada pangkuan-Nya. Saya, adik-adik saya kini menjadi yatim. Saya ingat, bagaimana perjuangan teman-teman saya untuk menghibur bahkan menemani saya sampai kini . (Terima kasih teman-teman yang telah rela mengantarkan jenazah Ayah saya saat itu. Semoga Allah membalas kebaikanmu J ).
Saya yang dulunya tidak tahu untuk apa saya sekolah, akhirnya setelah berbulan-bulan saya merenungi hal ini, ternyata perkataan orang tua adalah doa. Saya mungkin tidak menyadari bagaimana saat itu Ayah mendoakanku agar saya bisa kuliah. Bahkan Ayah saya sering berkata bahwa segala sesuatu yang Ayah dan Ibu punya, semata-mata adalah untuk anak-anaknya. Saya yakin, inilah awal saya untuk mengokohkan jembatan saya. Walaupun berawal dari ujian berat, namun saya percaya bahwa ini adalah sebuah niat besar untuk langkah saya selanjutnya.
Bagaimana saya menghiasi jembatan saya dengan ornamen yang indah?
Masa remaja, masa sekolah menengah atas, merupakan masa di mana saya sedang berada pada sebuah jembatan kehidupan. Saya menyadari bahwa jembatan ini sangat sensitif, mudah roboh, bahkan terombang-ambing arus bahari. Saya haru bisa mengokohkannya. Kokoh saja rasanya tidak cukup. Saya harus bisa menghiasinya dengan sejumlah ornamen indah dan cantik. Apa itu?
Saat SMA, saya sudah sadar bahwa belajar adalah kebutuhan. Namun, tujuan saya masih belum jelas. Saya terkadang belajar hanya sekedar belajar. Bahkan demi meraih nilai tinggi pun, saya pernah mengalaminya. Namun, kehidupan saya di kelas 11, mengubah pola pikir saya. Saya mulai dikenalkan dengan dunia organisasi. Saya yang belum pernah mengalami dunia tersebut sebelumnya, merasa bahwa organisasi adalah hal baru dalam kehidupan saya. Di dunia baru tersebut, hal yang paling penting yang saya dapat adalah bagaimana memiliki sense yang tinggi terhadap lingkungan sekitar. Banyak sekali yang saya dapat saat itu. Mulai dari kualitas sosial yang semakin baik, bahkan arahan akan tujuan hidup saya nanti, yakni saya kuliah untuk apa sih? Mungkin teman-teman di sini bertanya, apa hubungannya organisasi dengan pengaruh masa depan saya?
Ya, saya yang dulu tiba-tiba aktif mulai merasa percaya diri bahwa kehidupan ini tidak akan berjalan sendirian, kehidupan itu perlu diatur, kehidupan itu dinamis, dan kehidupan itu tergantung pada sebesar apa kontribusi kita terhadap kehidupan. Saya masih ingat kata-kata mentor saya di SMA, “Sukses itu distribusi. Sukses itu kontribusi”. Singkatnya, saya mengenal pentingnya visi dan dunia masa depan itu dari kakak-kakak dan teman-teman seperjuangan SMA.
Saya yang tengah menghiasi jembatan saya tersebut, tentunya menempatkan belajar sebagai prioritas. Belajar apa saja? Apa pun! Saya mendengar, saya mengamati, saya menganalisis, saya melakukan, saya berbicara, adalah sebagian dari bagaimana saya belajar. Saya selalu bertekad bahwa belajar adalah kebutuhan. Saya sangat membutuhkan bimbingan para Bapa Ibu guru agar saya tidak tersesat nanti. Saya juga membutuhkan ilmu tambahan dari teman-teman saya jika saya tidak mengerti, bahkan saya pun tidak pelit jika ada yang meminta untuk saling belajar. Intinya, berbagilah. Dan satu hal yang paling penting, “jangan lupa untuk selalu mendoakan orang lain.” Itu saja cukup, sebagai hiasan terindah jembatanku. Belajar dan berbagi.
Saat ku dibangun dulu di dunia pendidikan, aku bertanya akan jadi apa? saya sudah sekokoh apa?
Kelas 11 akhir, saya mencoba menghiasi kembali jembatanku dengan mengikuti berbagai kompetisi. Saya pernah ikut seleksi LCC Fisika, LCC Empat Pilar kehidupan Berbagsa dan Bernegara, OSN fisika tingkat kota. Namun, saya belum pernah menduduki kursi juara. Belum. Bukan berarti bahwa saya tidak bisa, tapi saat itu memang belum waktunya untuk juara.  Walaupun hasilnya belum maksimal, namun itulah hiasan. Terkadang hiasan itu terlihat jelek di mata orang lain, namun bagiku sangat indah. Saya bisa memetik pelajaran berharga bahwa belajar itu terkadang membuat kita lupa apa yang sudah kita pelajari hari itu juga. Tapi pengalaman, tidak akan pernah lupa walaupun sudah seribu tahun kita melewatkan pengalaman itu.
Kelas 12, saya masih merasa bahwa jembatanku masih mudah goyah, masih belum kokoh. Saya masih merasakan dahaga ilmu pengetahuan, bahkan pengalaman. Saya harus bangkit dan sadar bahwa saya sebentar lagi akan menuju tangga yang curam. Ya, dunia kelas 12 memang dunia yang galau, penuh dengan kebimbangan. Ya gak teman-teman? Tapi, saya sudah menyiasatinya. Saya kan ingat kata-kata Ayah saya, “Eneng harus kuliah, tapi kuliah yang gratis”, katanya.
Berbulan-bulan saya memohon petunjuk kepada-Nya, akhirnya saya bermimpi bahwa saya sekolah di ITB. Persis seperti apa yang diharapkan Ayah. Tapi saya masih bingung, saya mau kuliah di ITB untuk apa? Mau jadi apa?

Apa yang saya rasakan saat menaikki tangga menara?
Saat itu, papan tulis di kelasku sudah penuh dengan tulisan cita-cita. Ada yang ingin masuk UI, ITB, UGM, STAN, dll. Saya termasuk orang yang terlambat menuliskan cita-cita saya di papan tulis. Saya masih merahasiakan dan mematangkan visi kuliah saya.
Terlintas saya berpikir untuk memilih jurusan Teknik Lingkungan ITB. Awalnya, saya mencari info-info Perguruan Tinggi yang menyediakan program studi Teknik Lingkungan. Mulai dari UI, UII, Undip, ITS, dan ITB. Namun, saya memilih ITB karena selain dekat dengan daerah saya, ITB merupakan perguruan tinggi yang banyak diserbu siswa kelas 12 SMA.  Akhirnya, saya berani menuliskan cita-cita di papan tulis, Hanifah : FTSL ITB. Perasaan saya? Saya bersyukur karena saya sudah punya tujuan. Saya bersyukur, siapapun yang membaca tulisan tersebut akan saya aamiinkan.
Mungkin teman-teman di sini bertanya, kenapa saya memilih FTSL? Ya, saya tiba-tiba terketuk hati dan pikiran saya untuk membangun daerah saya, Tasikmalaya. Saya tahu bahwa daerah ini dulu terkenal dengan sebutan kota resik. Saya tahu bahwa kota ini harus dibenahi bahkan dipertahankan eksistensinya dalam hal kebersihan. Karena itulah, saya ingin menjadikan daerah saya sebagai role model penanganan permasalahan lingkungan bahkan penyediaan infrastruktur terbaik. Jadi, singkatnya saya ingin menjadi seorang rekayasawan.
Namun, saya harus sadar. Menjadi seorang dosen adalah cita-cita saya sejak SMP. Saya ingin seperti Ayah saya yang selalu mengajarkan prinsip-prinsip keilmuannya pada mahasiswanya. Tidak hanya itu, Ayah saya pun sangat berwibawa menjadi seorang dosen. Lantas, mengapa saya memilih ITB sebagai tujuan saya?
Saya sudah tahu bahwa seorang insinyur memiliki ruang kerja yang luas. Mereka bisa menjadi konsultan, ahlli riset, bahkan pendidik pun. Jadi, tidak masalah saya kuliah di ITB hanya karena ingin jadi dosen. Yang jelas, kelak nanti saya akan menjadi alumnus yang berbakti pada negeri, daerah, bahkan pendidikan. Bukan hal yang mungkin bahwa ketika saya menjadi dosen nanti, prinsip-prinsip keteknikan tidak akan terpakai. Bukankan nanti saya akan membenahi daerah saya melalui berbagai proyek yang akan saya jalankan nanti? Insya Allah.
Itu masih angan-angan, teman. Tapi itu penting, agar kita bisa meramalkan akan jadi apa kita di masa depan. Di tangga menara ini, saya sudah bisa memikirkan akan jadi apa saya nanti, dan harus bisa berani melangkah untuk menuju menara tersebut, Institut Teknologi Bandung.

Apakah saya bisa sampai menara tersebut?
Saya yakin bahwa episode ketika saya sampai di menara itu merupakan hal yang tidak akan pernah terlupakan. Atas karunia-Nya, atas doa orang tua, para guru, dan teman-teman  tentunya, akhirnya saya bisa melihat dengan dekat bagaimana menara itu ada. Saya diterima di ITB agar saya bisa membuktikan sejauh mana saya mampu mewujudkan cita-cita saya. Karena di menara itu, saya bisa melihat kehidupan yang luas dari atas menara, bahkan saya bisa melihat indahnya masa lalu yang mengantarkanku hingga sampai di atas menara. Dan saya pun bahagia karena sejak saya dinyatakan sampai di menara tersebut, kakak-kakak paguyuban sudah menyambutku dengan hangat.
Hal yang sangat penting dari cerita saya di atas adalah, di atas menara pasti ada menara. Di atas langit masih ada langit. Untuk apa saya sombong karena sudah sampai di menara tersebut? Untuk apa saya kuliah jika hanya sekedar gengsi? Untuk apa saya kuliah jika tak mau berkontribusi?

Apa pesan untuk adik-adikku di Tasikmalaya?
Teman-teman, adik-adikku yang saya banggakan. Tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini, asalkan kita percaya pada-Nya. Jadilah orang yang climbers ketika menemui tantangan, karena climbers adalah orang yang tidak mudah menyerah dan terus semangat menaikki gunung tantangan. Tapi janganlah jadi orang yang campers, ia adalah tipe orang yang selalu mencari zona aman. Dan janganlah juga jadi quitters karena ia selalu menyerah sebelum mencoba. Itu adalah kata-kata Pak Sammy Sumargo, alumnus ITB 1964.
Teman-teman, mari kita sama-sama menikmati indahnya proses. Karena buah daripada perjuangan itu adalah proses, bukan hasil. Hasil hanya sebagai imbalan tambahan saja. Tentu perjuangan akan semakin bernilai jika kita benar-benar berjuang dengan tulus. Sekali lagi, ketulusan adalah energi yang akan menggerakkan niat kita sehingga langkah kita selanjutkan akan terasa bernakna.
Teman-teman, jika masih ada yang menganggap bahwa kuliah itu sulit, mahal, dan melelahkan, maka marilah kita sama-sama merenungkan bagaimana jadinya negara tercinta ini jika masyarakatnya tidak peduli dengan bangsanya? Dengan kuliah, kita bisa meningkatkan kualitas pengetahuan kita. Bukan hanya itu, dunia perkuliahan mengajarkan kita untuk peka terhadap lingkungan sekitar, dan masih banyak lagi. Peganglah dengan teguh janji Tuhan bahwa Tuhan pasti memberikan rezeki-Nya pada siapapun yang dikehendaki-Nya. Karena pada hakikatnya, mencari ilmu itu wajib kan teman-teman? Dari mulai ia lahir sampai mati. Terakhir, ingatlah bahwa daun tidak pernah marah ketika diterpa angin. Oleh karena itu, kita sebagai manusia jangan kalah sama daun ya? Kita harus bisa bertahan dari segala tantangan, dan jadilah pemenangnya.

Bandung, 24 November 2013
Hanifah Nurawaliah

“Untuk Tasikmalaya”

Senin, 18 November 2013

Kehidupan, Karier, dan Karya Istimewa Bapak “Pondasi Cakar Ayam”


Rekayasawan tentu harus menerapkan pengetahuan untuk menciptakan karya bagi masyarakat. Bukan seorang rekayasawan jika tidak menghasilkan “sesuatu” yang bermanfaat karena hakikat seorang rekayasawan adalah to solve the problem. Satu diantara banyak rekayasawan dunia yang diakui karyanya yaitu Prof. Dr.(HC) Ir. R. M. Sedyatmo (1909-1984), salah satu putera terbaik bangsa dengan karyanya yang terkenal: “Pondasi Cakar Ayam”.
Beliau lahir di Karanganyar, Jawa Tengah pada 24 Oktober 1909. Nama kecilnya ialah R.M Sarwanto, kemudian berganti nama menjadi Sedyatmo yang diharapkan kelak menjadi anak yang berguna bagi masyarakat, nusa, dan bangsa. Beliau merupakan putra Mangkunegaran yang besar dalam lingkungan aristodemokrasi, artinya keluarga aristokrat yang menganut paham demokrasi dalam kehidupan harian mereka. Dalam lingkungan seperti ini beliau bertumbuh dan belajar untuk menciptakan peluang. Kehidupan kecilnya yang kreatif dan senang berimajinasi terbukti dengan kesenangannya membuat “benang gelasan” berbobot, bahkan menciptakan pabrik dari kotoran kerbau sebagai bahan permainan di masa kecilnya. Sedyatmo kecil dijuluki “Si Kancil” karena kecerdikannya dalam berpikir bahkan beliau sudah mampu berpikir kritis dan berjiwa integritas, dibuktikannya saat beliau berinteraksi dengan gurunya mengenai bentuk bumi yang bulat sedangkan beliau tidak memercayainya. Barulah setelah mendapat penjelasan dari gurunya, akhirnya beliau menerima dan mengakui kesalahannya.
Atas dukungan para guru di sekolah, Sedyatmo melangkah maju untuk menempuh pendidikan tinggi di Technische Hoge School (THS) atau sekarang dikenal dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Kepribadiannya yang senang “berkhayal namun pasti” terlihat saat beliau mampu mengalahkan dosennya dengan menjawab persoalan bilangan khayal yang rumit. Beliau diyakini akan menjadi insinyur yang hebat walaupun nilai rata-ratanya tidak terlalu tinggi. Pandangan hidup yang religious membawa kehidupannya menjadi inspirasi bagi orang banyak. Beliau meyakini istilah “aji-aji pancasana” atau senjata lima serangkai yang Tuhan beri kepada manusia: imajinasi, intelektual, intuisi, inspirasi, dan insting.
Selesai dari THS pada 1934, Sedyatmo bekerja sebagai insinyur perencanaan di berbagai instansi pemerintah. Beliau membangun Jembatan air Wiroko, selesai tahun 1937, meskipun dihadapkan dengan berbagai tantangan. Karya tersebut dicapainya sebagai awal perjuangan untuk menghasilkan karya selanjutnya. Karyanya yang sangat istimewa yaitu "Pondasi Cakar Ayam" pada tahun 1962. Temuan Sedyatmo yang merupakan hasil inspirasi dari akar pohon kelapa tersebut, awalnya digunakan dalam pembuatan apron Pelabuhan Udara Angkatan Laut Juanda, Surabaya, landasan bandara PoloniaMedan, dan landasan bandara Soekarno-HattaJakarta. Beberapa karya Sedytamo lainnya yang terkenal diantaranya pompa hidrolis, bendungan Jatiluhur, bahkan jembatan Suramadu yang menerapkan sistem seperti pondasi cakar ayam tersebut. Atas karyanya dalam pembuatan bendungan Jatiluhur, pemerintah Perancis memberinya penghargaan Chevalier de la Legion d’Honneur.
Pondasi cakar ayam terdiri dari plat dan beton bertulang dengan tebal 10-15 cm, tergantung dari jenis konstruksi dan keadaan tanah di bawahnya. Di bawah plat beton dibuat sumuran pipa-pipa dengan jarak sumbu antara 1,20 m, tebal 8 cm, dan panjangnya tergantung dari beban di atas plat serta kondisi tanahnya. Untuk pipa dipakai tulangan tunggal, sedangkan untuk plat dipakai tulangan ganda. Sistem pondasi cakar ayam sangat sederhana, sehingga cocok sekali diterapkan di daerah dengan peralatan modern dan tenaga ahli yang sulit didapat. Sampai batas-batas tertentu, sistem ini dapat menggantikan pondasi tiang pancang. Untuk gedung berlantai 3-4 misalnya, sistem cakar ayam biayanya akan sama dengan pondasi tiang pancang 12 meter.
Menjelang usia pensiun, beliau aktif bergabung dengan Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik sampai tahun 1976. Perjuangan atas karyanya telah dibuktikan melalui proyek di Cengkareng berupa Jalan Bebas Hambatan atau Jalan Tol menuju Bandara Soekarno-Hatta. Karya-karya beliau mendapat pengakuan dunia hingga akhirnya dipatenkan dan dipakai di luar negeri. Tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan, beliau berjuang dengan pantang menyerah dan penuh kesabaran.
Pondasi Cakar Ayam memiliki hak paten dari 10 negara. Selain itu beliau juga memiliki hak paten atas pipa pesat sistem Indonesia yang dipatenkan di lima negara asing. Sehingga banyak orang asing yang melamar hasil temuan cakar ayamnya. Namun Pak Sedyatmo menunjukkan bagaimana menjadi seorang nasionalis. Di saat dukungan dari bangsa sendiri belum diperoleh. Beliau tetap bertahan pada idealismenya untuk memersembahkan penemuannya bagi bangsa Indonesia.
Atas jasanya kepada almamater, saat Lustrum ketiga (Dies Natalis ke-15) Institut Teknologi Bandung tanggal 2 Maret 1974, beliau menerima penghormatan berupa Doctor Honoris Causa dalam Ilmu pengetahuan Teknik dari Senat ITB, atas dasar penilaian terhadap jasa-jasanya sebagai Insinyur, dengan promotor Prof. Ir. Soetedjo.
Nama Sedyatmo kemudian diabadikan sebagai nama jalan bebas hambatan dari Jakarta menuju bandara Soekarno-Hatta. Profesor Sedyatmo meninggal dunia di usia 75 tahun pada 1984 dan dimakamkan di Karanganyar. Pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputra Kelas I kepada Sedyatmo atas jasa-jasanya.
Sangat cocok sekali dengan kalimat berikut ini, “If it ain’t broke, it doesn’t have enough features yet.” Seorang rekayasawan akan selalu pantang menyerah dan tetap berkarya demi kemanfaatan kehidupan masyarakat. Belajar dari sosok Bapak pencipta “Pondasi Cakar Ayam” tersebut, kita menemukan salah satu nilai penting bagi seorang rekayasawan atau insinyur, yaitu pengabdian. Rekayasawan akan menerapkan kemampuan pengetahuannya untuk menciptakan “karya” yang bermanfaat bagi masyarakat.
Kehidupan Bapak Sedyatmo menggambarkan kepada kita, khususnya calon rekayasawan terbaik bangsa, agar selalu menempatkan nilai-nilai religious dalam segala aspek. Tentu tidak baik jika dalam menjalankan profesinya, seorang rekayasawan mementingkan kepentingan ego semata, bukan kepentingan sesama makhluk Tuhan. Seorang rekayasawan sejati ialah pembangun peradaban, bukan penghancur peradaban.
Realitasnya, karya-karya istimewa Bapak Sedyatmo dapat kita rasakan hingga saat ini. Salah satunya dengan adanya Jalan Tol menuju Bandara Soekarno-Hatta, akses jalur transportasi semakin mudah sehingga selain dapat meningkatkan perekonomian sekitar, juga menjadi indikator kemajuan bangsa dari sisi pembangunan. Tentu saja, karya-karya tersebut—infrastruktur dan non-infrastruktur—harus kita jaga keberadaannya.
Itulah ulasan sedikit mengenai kehidupan, karier, dan karya sang inspirator negeri dalam pembangunan, sang inovator negeri dalam pembaharuan, dan negarawan sejati dalam pengabdian. Seorang rekayasawan yang mampu menyuarakan karya anak negeri ke belahan dunia dan mengharumkan jejak pembangunan Indonesia.

Oleh: Hanifah Nurawaliah
16613087
Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Sumber :
sipil.ft.unsri.ac.id/index.php/forum/view-postlist/forum-18-lain-lain/topic-3-7- isinyur-sipil-indonesia-paling-berpengaruh
http://id.wikipedia.org/wiki/Sedyatmo






Selasa, 02 Juli 2013

WHAT DO YOU FEEL? AND WHAT WILL YOU DO?

Indonesia Kaya Sumber Daya, Kaya Sampah
Oleh: Hanifah Nurawaliah
Masyarakat Indonesia tentu tidak asing lagi dengan sampah. Masyarakat sudah mengetahui definisi sampah, macam-macam sampah, dan upaya pengolahannya. Namun ironis, pengetahuan tentang sampah hanya sebatas teori. Sedikit sekali masyarakat memahami dan mengenal dekat dengan sampah. Oleh karena itu, pemahaman dan pelaksanaan upaya pengolahan sampah harus sudah menjadi paradigma masyarakat Indonesia sebagai masyarakat yang beradab dan beretika lingkungan.
Anggapan sampah sebagai benda yang tidak fungsional, perlu dikoreksi. Menurut definisi secara umum, sampah merupakan benda hasil sampingan kegiatan manusia, seperti kegiatan industri dan rumah tangga. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sampah adalah barang atau benda yang dibuang karena tidak dipakai lagi. Dalam hal ini, masyarakat harus cerdas memahami definisi. Jangan sampai sebuah definisi dipahami secara parsial. Hal ini ditakutkan akan menjadi suatu anggapan bahwa sampah memang tidak bisa difungsikan kembali sebagai material yang memiliki fungsi baru. Oleh karena itu, totalitas pemahaman mengenai definisi sampah mesti dilakukan agar pandangan negatif tentang sampah dapat diminimalisasi.
Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, ternyata kaya pula akan sampah. Sangat mudah sampah ditemukan di bumi pertiwi ini, apalagi sampah anorganik jenis plastik. Sampah sangat erat kaitannya dengan kegiatan konsumsi manusia. Hal ini akan meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Artinya, volume sampah yang dihasilkan berbanding lurus dengan tingkat konsumsi penduduk suatu tempat.  (www.tempo.co, Minggu 15 April 2012) Parliza mengemukakan “Kementrian lingkungan hidup mencatat rata-rata penduduk Indonesia menghasilkan sekitar 2,5 liter sampah per hari atau 625 juta liter dari jumlah total penduduk”. Ngerikah anda dengan angka tersebut? Bukan masalah angka, tetapi sejauh mana sampah-sampah tersebut dikelola dengan baik. Direktur Jenderal Cipta Karya Kementrian PU, Budi Yuwono mengatakan sejauh ini baru 54 persen volume sampah nasional yang bisa ditangani secara baik karena diangkut menjauhi wilayah pemukiman. (www.tempo.co, Kamis,04 Oktober 2012).
Apakah masyarakat kita sadar bahwa sampah merupakan salah satu sumber daya yang luar biasa?
Masyarakat cerdas tentu akan menjadikan masalah sampah sebagai peluang investasi bahkan sumber daya terbarukan. Julukan Indonesia Negara Sampah harus sudah mulai dihilangkan dan dilupakan dalam benak bangsa. Dengan segala kekayaan sumber daya yang ada, Indonesia justru sedang dihadapkan dalam dua pilihan, yakni  menjadikan sampah sebagai sumber daya terbarukan atau dibiarkan menjadi sampah abadi (eternal rubbish)? Volume sampah Indonesia yang sangat besar merupakan kekayaan bangsa yang belum disadari oleh masyarakat. Sebagian masyarakat  masih ‘jijik’ dengan sampah sehingga menimbulkan sikap apatis terhadap pentingnya mengolah sampah.
Salah satu masalah yang cukup mendasar yaitu sistem pemilahan sampah di Indonesia yang buruk. Sampah dibuang sembarangan, tidak peduli mana sampah organik dan anorganik. Kemudian sampah tersebut ditampung, ditimbun, bahkan ada yang langsung dibakar tanpa memerhatikan teknik yang baik. Akibatnya, timbul masalah lingkungan yang baru. Oleh karena itu, pemilahan sampah semestinya dilakukan mulai dari lingkungan rumah (start  at home), bahkan sangat baik apabila hal ini semakin memasyarakat.
Mengapa sampah bisa dikatakan sumber daya yang potensial? 
Dalam hal ini, sampah plastik merupakan jenis sampah anorganik yang paling banyak dihasilkan di Indonesia. Selain dapat didaur ulang, sampah plastik pun dapat dijadikan bahan baku produksi sandang dan papan. Di Tasikmalaya, sudah dibuat baju dengan bahan baku sampah plastik yang diproses terlebih dahulu sehingga plastik dapat disulap menjadi pakaian. Sampah plastik pun dapat dijadikan bahan bangunan dengan cara memanfaatkan abu hasil pembakaran sampah dengan suhu tinggi kemudian dicampur dengan material lain sehingga dapat dibentuk menjadi  batu bata sampah. Berbagai kerajinan tangan dari sampah pun, kini sudah bisa berkembang walaupun belum memasyarakat. Jadi, sampah dapat dijadikan sumber daya terbarukan yang bernilai ekonomis dan estetis, tidak seperti bentuk sampah sebelum diolah.
Pengolahan sampah harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi karena teknologi memudahkan manusia dalam setiap pekerjaan. Kualitas Sumber Daya Manusia dapat dibuktikan dengan kemampuan setiap insan untuk  ‘melek’ teknologi.  Oleh karena itu, supaya sumber daya sampah Indonesia dapat dimaksimalkan manfaatnya, masyarakat harus mampu menggunakan teknologi tepat guna sehingga pengolahan sampah berlangsung secara efektif dan efisien.
Hal yang paling fundamental  ialah kesadaran masyarakat. Masyarakat semestinya bangga karena Indonesia merupakan negara penghasil sampah terbesar di Asia setelah China. Sebaliknya, bangsa  Indonesia wajib malu apabila sampah sama sekali tidak dimanfaatkan. Tidak seperti di Jepang dan Jerman, kedua negara tersebut sangat membutuhkan sampah, layaknya membutuhkan sandang, pangan, dan papan. Sampah-sampah tersebut diolah menjadi produk baru yang lebih unik dan fungsional.
Oleh karena itu, mari kita jadikan sampah sebagai sumber daya terbarukan yang potensial dan bernilai dalam segala bidang. Kelak, perlakuan masyarakat terhadap sampah akan sama halnya dengan perlakuan terhadap tumbuhan dan benda lainnya. Sebagai contoh, tumbuhan dipelihara manusia mulai dari pembibitan sampai tumbuh menghasilkan manfaat bagi manusia. Begitu pula dengan sampah, jika kita memanfaatkannya dengan baik, maka akan menjadi sesuatu yang berguna (from nothing to be usefull). Apabila pengolahan dan pemanfaatan sampah sudah dilaksanakan dengan baik di Indonesia, maka tidak ada lagi sampah yang berserakan. Semua jenis sampah dipilah dan diolah menjadi barang atau material baru yang fungsional.