Menuju Menara
Berbicara
tentang masa depan, bagi saya, harus
diawali dengan niat yang tulus. Saya tahu bahwa ketulusan adalah motivasi
terbesar yang akan menggerakkan langkah saya selanjutnya. Kuliah, bagi saya
adalah tangga menuju menara kehidupan. Saya dulu bermimpi untuk bisa masuk
dalam dunia menara perkuliahan. Saya harus tahu bahwa saya tidak akan sampai
pada menara itu, bahkan tangganya sekalipun, jika tanpa sebuah jembatan yang
kokoh. Karena bagi saya, menara itu sangat tinggi, jauh, dan melewati bahari
yang berarus. Dan masa depan, adalah taruhan. Banyak sekali tantangan bahkan
godaan yang akan menerjang. Oleh karena itu, saya harus berusaha membangun
jembatan yang kokoh namun penuh dengan hiasan ornamen yang menjanjikan. Apa
itu?
Jembatan itu adalah kehidupan remaja yang
penuh dengan cerita
Saya masih ingat kata-kata bijak guru saya, “SMA itu
hanya jembatan yang akan membantu kalian untuk melaju ke langkah yang
selanjutnya, langkah yang lebih hebat, yakni dunia perkuliahan, bahkan dunia
pekerjaan.” Bagaimana dengan sekolah menengah sederajat lainnya? Tentu sama
saja bukan? Di sini saya tidak akan membedakan apakah jembatan yang saya
maksudkan adalah kehidupan SMA, SMK, atau Madrasah Aliyah. Namun, jembatan itu
adalah masa remaja yang penuh dengan cerita.
Ketika awal saya menempuh pendidikan di sekolah
menegah atas, saya belum terpikirkan untuk apa saya sekolah lagi. Sekedar untuk
formalitas saja tepatnya. Namun, saya ingat ketika saya membaca tulisan di
papan tulis-mungkin saat itu saya duduk di kelas sementara bekas kakak kelas 11- yang bertuliskan seperti ini: UI, UGM, ITB,
Unpad, Unsil, UPI, STAN, dll. Saya yang saat itu masih polos (baru kelas 10)
mulai mengerucutkan kening saya. “Kok
SMA kelas 11 udah mikir kuliah sih?
Emang perlu banget gitu ya lanjutin kuliah?”, kata saya dalam hati.
Kapan saya mulai mengokohkan jembatan saya?
Saat itu
saya sedang menonton acara televisi program “Satu Jam Lebih Dekat” yang
kebetulan tokohnya adalah alumni ITB. Tiba-tiba Ayah saya berbicara seperti
ini, “Neng, pami resep elmu eksak, ka ITB
we. Tuh siga tokoh eta.” Saya tidak segera merespon perkataan Ayah
tersebut. Saya hanya terdiam dan bahkan merasa gentar mendengar kata ITB.
Waktu berlalu, dan tibalah 23 Februari 2011.
Saya harus memulai masa remaja ini dengan ujian yang sangat berat. Ayah saya,
saat itu Allah panggil kepada pangkuan-Nya. Saya, adik-adik saya kini menjadi
yatim. Saya ingat, bagaimana perjuangan teman-teman saya untuk menghibur bahkan
menemani saya sampai kini . (Terima kasih teman-teman yang telah rela
mengantarkan jenazah Ayah saya saat itu. Semoga Allah membalas kebaikanmu J ).
Saya yang
dulunya tidak tahu untuk apa saya sekolah, akhirnya setelah berbulan-bulan saya
merenungi hal ini, ternyata perkataan orang tua adalah doa. Saya mungkin tidak
menyadari bagaimana saat itu Ayah mendoakanku agar saya bisa kuliah. Bahkan
Ayah saya sering berkata bahwa segala sesuatu yang Ayah dan Ibu punya,
semata-mata adalah untuk anak-anaknya. Saya yakin, inilah awal saya untuk
mengokohkan jembatan saya. Walaupun berawal dari ujian berat, namun saya
percaya bahwa ini adalah sebuah niat besar untuk langkah saya selanjutnya.
Bagaimana saya menghiasi jembatan saya dengan
ornamen yang indah?
Masa remaja,
masa sekolah menengah atas, merupakan masa di mana saya sedang berada pada
sebuah jembatan kehidupan. Saya menyadari bahwa jembatan ini sangat sensitif,
mudah roboh, bahkan terombang-ambing arus bahari. Saya haru bisa
mengokohkannya. Kokoh saja rasanya tidak cukup. Saya harus bisa menghiasinya
dengan sejumlah ornamen indah dan cantik. Apa itu?
Saat SMA,
saya sudah sadar bahwa belajar adalah kebutuhan. Namun, tujuan saya masih belum
jelas. Saya terkadang belajar hanya sekedar belajar. Bahkan demi meraih nilai
tinggi pun, saya pernah mengalaminya. Namun, kehidupan saya di kelas 11,
mengubah pola pikir saya. Saya mulai dikenalkan dengan dunia organisasi. Saya
yang belum pernah mengalami dunia tersebut sebelumnya, merasa bahwa organisasi
adalah hal baru dalam kehidupan saya. Di dunia baru tersebut, hal yang paling
penting yang saya dapat adalah bagaimana memiliki sense yang tinggi terhadap lingkungan sekitar. Banyak sekali yang
saya dapat saat itu. Mulai dari kualitas sosial yang semakin baik, bahkan
arahan akan tujuan hidup saya nanti, yakni saya kuliah untuk apa sih? Mungkin teman-teman di sini
bertanya, apa hubungannya organisasi dengan pengaruh masa depan saya?
Ya, saya
yang dulu tiba-tiba aktif mulai merasa percaya diri bahwa kehidupan ini tidak
akan berjalan sendirian, kehidupan itu perlu diatur, kehidupan itu dinamis, dan
kehidupan itu tergantung pada sebesar apa kontribusi kita terhadap kehidupan.
Saya masih ingat kata-kata mentor saya di SMA, “Sukses itu distribusi. Sukses
itu kontribusi”. Singkatnya, saya mengenal pentingnya visi dan dunia masa depan
itu dari kakak-kakak dan teman-teman seperjuangan SMA.
Saya yang
tengah menghiasi jembatan saya tersebut, tentunya menempatkan belajar sebagai
prioritas. Belajar apa saja? Apa pun! Saya mendengar, saya mengamati, saya
menganalisis, saya melakukan, saya berbicara, adalah sebagian dari bagaimana
saya belajar. Saya selalu bertekad bahwa belajar adalah kebutuhan. Saya sangat
membutuhkan bimbingan para Bapa Ibu guru agar saya tidak tersesat nanti. Saya
juga membutuhkan ilmu tambahan dari teman-teman saya jika saya tidak mengerti,
bahkan saya pun tidak pelit jika ada
yang meminta untuk saling belajar. Intinya, berbagilah. Dan satu hal yang
paling penting, “jangan lupa untuk selalu mendoakan orang lain.” Itu saja cukup,
sebagai hiasan terindah jembatanku. Belajar dan berbagi.
Saat ku dibangun dulu di dunia pendidikan,
aku bertanya akan jadi apa? saya sudah sekokoh apa?
Kelas 11
akhir, saya mencoba menghiasi kembali jembatanku dengan mengikuti berbagai
kompetisi. Saya pernah ikut seleksi LCC Fisika, LCC Empat Pilar kehidupan
Berbagsa dan Bernegara, OSN fisika tingkat kota. Namun, saya belum pernah
menduduki kursi juara. Belum. Bukan berarti bahwa saya tidak bisa, tapi saat
itu memang belum waktunya untuk juara.
Walaupun hasilnya belum maksimal, namun itulah hiasan. Terkadang hiasan
itu terlihat jelek di mata orang lain, namun bagiku sangat indah. Saya bisa
memetik pelajaran berharga bahwa belajar itu terkadang membuat kita lupa apa
yang sudah kita pelajari hari itu juga. Tapi pengalaman, tidak akan pernah lupa
walaupun sudah seribu tahun kita melewatkan pengalaman itu.
Kelas 12,
saya masih merasa bahwa jembatanku masih mudah goyah, masih belum kokoh. Saya
masih merasakan dahaga ilmu pengetahuan, bahkan pengalaman. Saya harus bangkit
dan sadar bahwa saya sebentar lagi akan menuju tangga yang curam. Ya, dunia
kelas 12 memang dunia yang galau,
penuh dengan kebimbangan. Ya gak teman-teman? Tapi, saya sudah menyiasatinya.
Saya kan ingat kata-kata Ayah saya, “Eneng
harus kuliah, tapi kuliah yang gratis”, katanya.
Berbulan-bulan saya memohon petunjuk kepada-Nya,
akhirnya saya bermimpi bahwa saya sekolah di ITB. Persis seperti apa yang
diharapkan Ayah. Tapi saya masih bingung, saya mau kuliah di ITB untuk apa? Mau
jadi apa?
Apa yang saya rasakan saat menaikki tangga
menara?
Saat itu, papan tulis di kelasku sudah penuh
dengan tulisan cita-cita. Ada yang ingin masuk UI, ITB,
UGM, STAN, dll. Saya termasuk orang yang terlambat menuliskan cita-cita saya di
papan tulis. Saya masih merahasiakan dan mematangkan visi kuliah saya.
Terlintas saya berpikir untuk memilih jurusan
Teknik Lingkungan ITB. Awalnya, saya mencari info-info Perguruan Tinggi yang
menyediakan program studi Teknik Lingkungan. Mulai dari UI, UII, Undip, ITS,
dan ITB. Namun, saya memilih ITB karena selain dekat dengan daerah saya, ITB
merupakan perguruan tinggi yang banyak diserbu
siswa kelas 12 SMA. Akhirnya, saya
berani menuliskan cita-cita di papan tulis, Hanifah : FTSL ITB. Perasaan saya?
Saya bersyukur karena saya sudah punya tujuan. Saya bersyukur, siapapun yang
membaca tulisan tersebut akan saya aamiinkan.
Mungkin teman-teman di sini bertanya, kenapa
saya memilih FTSL? Ya, saya tiba-tiba terketuk hati dan
pikiran saya untuk membangun daerah saya, Tasikmalaya. Saya tahu bahwa daerah
ini dulu terkenal dengan sebutan kota resik. Saya tahu bahwa kota ini harus
dibenahi bahkan dipertahankan eksistensinya dalam hal kebersihan. Karena
itulah, saya ingin menjadikan daerah saya sebagai role model penanganan permasalahan lingkungan bahkan penyediaan
infrastruktur terbaik. Jadi, singkatnya saya ingin menjadi seorang rekayasawan.
Namun, saya harus sadar. Menjadi seorang
dosen adalah cita-cita saya sejak SMP. Saya ingin seperti Ayah saya yang selalu
mengajarkan prinsip-prinsip keilmuannya pada mahasiswanya. Tidak hanya itu,
Ayah saya pun sangat berwibawa menjadi seorang dosen. Lantas, mengapa saya
memilih ITB sebagai tujuan saya?
Saya sudah tahu bahwa seorang insinyur
memiliki ruang kerja yang luas. Mereka
bisa menjadi konsultan, ahlli riset, bahkan pendidik pun. Jadi, tidak masalah
saya kuliah di ITB hanya karena ingin jadi dosen. Yang jelas, kelak nanti saya
akan menjadi alumnus yang berbakti pada negeri, daerah, bahkan pendidikan.
Bukan hal yang mungkin bahwa ketika saya menjadi dosen nanti, prinsip-prinsip
keteknikan tidak akan terpakai. Bukankan nanti saya akan membenahi daerah saya
melalui berbagai proyek yang akan saya jalankan nanti? Insya Allah.
Itu masih angan-angan, teman. Tapi itu
penting, agar kita bisa meramalkan akan jadi apa kita di masa depan. Di tangga
menara ini, saya sudah bisa memikirkan akan jadi apa saya nanti, dan harus bisa
berani melangkah untuk menuju menara tersebut, Institut Teknologi Bandung.
Apakah saya bisa sampai menara tersebut?
Saya yakin bahwa episode ketika saya sampai
di menara itu merupakan hal yang
tidak akan pernah terlupakan. Atas karunia-Nya, atas doa orang tua, para guru,
dan teman-teman tentunya, akhirnya saya
bisa melihat dengan dekat bagaimana menara itu ada. Saya diterima di ITB agar
saya bisa membuktikan sejauh mana saya mampu mewujudkan cita-cita saya. Karena
di menara itu, saya bisa melihat kehidupan yang luas dari atas menara, bahkan
saya bisa melihat indahnya masa lalu yang mengantarkanku hingga sampai di atas
menara. Dan saya pun bahagia karena sejak saya dinyatakan sampai di menara
tersebut, kakak-kakak paguyuban sudah menyambutku dengan hangat.
Hal yang sangat penting dari cerita saya di
atas adalah, di atas menara pasti ada menara. Di atas langit masih ada langit.
Untuk apa saya sombong karena sudah sampai di menara tersebut? Untuk apa saya
kuliah jika hanya sekedar gengsi?
Untuk apa saya kuliah jika tak mau berkontribusi?
Apa pesan untuk adik-adikku di Tasikmalaya?
Teman-teman, adik-adikku yang saya banggakan.
Tidak ada hal yang tidak mungkin di
dunia ini, asalkan kita percaya pada-Nya. Jadilah orang yang climbers ketika menemui tantangan,
karena climbers adalah orang yang
tidak mudah menyerah dan terus semangat menaikki gunung tantangan. Tapi janganlah
jadi orang yang campers, ia adalah
tipe orang yang selalu mencari zona aman. Dan janganlah juga jadi quitters karena ia selalu menyerah
sebelum mencoba. Itu adalah kata-kata Pak Sammy Sumargo, alumnus ITB 1964.
Teman-teman, mari kita sama-sama menikmati
indahnya proses. Karena buah daripada
perjuangan itu adalah proses, bukan hasil. Hasil hanya sebagai imbalan tambahan
saja. Tentu perjuangan akan semakin bernilai jika kita benar-benar berjuang
dengan tulus. Sekali lagi, ketulusan adalah energi yang akan menggerakkan niat
kita sehingga langkah kita selanjutkan akan terasa bernakna.
Teman-teman, jika masih ada yang menganggap bahwa kuliah itu sulit,
mahal, dan melelahkan, maka marilah kita sama-sama merenungkan bagaimana jadinya
negara tercinta ini jika masyarakatnya tidak peduli dengan bangsanya? Dengan
kuliah, kita bisa meningkatkan kualitas pengetahuan kita. Bukan hanya itu,
dunia perkuliahan mengajarkan kita untuk peka
terhadap lingkungan sekitar, dan masih banyak lagi. Peganglah dengan teguh janji
Tuhan bahwa Tuhan pasti memberikan rezeki-Nya pada siapapun yang
dikehendaki-Nya. Karena pada hakikatnya, mencari ilmu itu wajib kan
teman-teman? Dari mulai ia lahir sampai mati. Terakhir, ingatlah bahwa daun tidak pernah marah ketika diterpa
angin. Oleh karena itu, kita sebagai manusia jangan kalah sama daun ya?
Kita harus bisa bertahan dari segala tantangan, dan jadilah pemenangnya.
Bandung, 24 November 2013
Hanifah Nurawaliah
“Untuk Tasikmalaya”