Jumat, 20 Desember 2013

Summary Analysis Essay
(This Essay as the exercise in order to increase my Skill in Critical Reading)
In his article entitled “Should Woman Work Outside The Home?”, Mohammd Akade Osman shows us that women should not work outside the home. Osman states that having women work outside the home is morally wrong from a religious point of view. Furthermore, it can destroy as we see in jobs. In my opinion, I disagree with Osmans statement that attending women in society can make the problems. In his article, Osman views explicity about women who work outside the home with many reasons. But I do not find the main point of other reason positively about this case so that there is no solution which appear from Osmans idea. Therefore, in this essay, I will state my opinion about this case.
Osman thinks that in religious view, all the heavenly books such as Bible and Koran are clear about woman’s place in the world. From my experience since i have learned religions matter, yes, it s true that God made women specially. For example, woman must to keep obidience to her husband. But, it is mean that no reason for women to close herself from dinamic world. Everyone, either man or women should work for their family. According to my reason, women is not banned to work outside home provided that her job still affluent.
The author makes a statement about the partership between men and women based on God’s law. For this statement, I agree. According to the Authors claim that it is the duty of the man to provide a secure shelter for the woman, especially for her financial. It is true that man has a larger duty than women. But, if we see in fact recently, for a single parent who only woman and her children in family, should she not to work outside the home? Certainly she should work to fulfill her family necessary.
Osman makes a powerful point about the destroying of society because women entered there. I really disagree. In jobs, if men can increase her capability, he never lose his job though women was attend. And in family life, women will not make problems unless there is no commitment between wife and husband in managing their family. Occasionaly, if woman does not work outside home, she feel bored so that this situation make family unstable.

I also disagree that women who work outside home can bring the degradation and loss morals in society. I think there is no relation whether men or women if they are make collaboration in society. In recent years, “Emansipasi” is very important. Is not it?
In summary, women is a part of social member. She should get her career provided that she can manage her home profesionally.  Hence, for women, please get the job outside unless it is not burdenly.

Minggu, 01 Desember 2013

Menuju Menara
 Berbicara tentang masa depan,  bagi saya, harus diawali dengan niat yang tulus. Saya tahu bahwa ketulusan adalah motivasi terbesar yang akan menggerakkan langkah saya selanjutnya. Kuliah, bagi saya adalah tangga menuju menara kehidupan. Saya dulu bermimpi untuk bisa masuk dalam dunia menara perkuliahan. Saya harus tahu bahwa saya tidak akan sampai pada menara itu, bahkan tangganya sekalipun, jika tanpa sebuah jembatan yang kokoh. Karena bagi saya, menara itu sangat tinggi, jauh, dan melewati bahari yang berarus. Dan masa depan, adalah taruhan. Banyak sekali tantangan bahkan godaan yang akan menerjang. Oleh karena itu, saya harus berusaha membangun jembatan yang kokoh namun penuh dengan hiasan ornamen yang menjanjikan. Apa itu?
Jembatan itu adalah kehidupan remaja yang penuh dengan cerita
Saya masih ingat kata-kata bijak guru saya, “SMA itu hanya jembatan yang akan membantu kalian untuk melaju ke langkah yang selanjutnya, langkah yang lebih hebat, yakni dunia perkuliahan, bahkan dunia pekerjaan.” Bagaimana dengan sekolah menengah sederajat lainnya? Tentu sama saja bukan? Di sini saya tidak akan membedakan apakah jembatan yang saya maksudkan adalah kehidupan SMA, SMK, atau Madrasah Aliyah. Namun, jembatan itu adalah masa remaja yang penuh dengan cerita.
Ketika awal saya menempuh pendidikan di sekolah menegah atas, saya belum terpikirkan untuk apa saya sekolah lagi. Sekedar untuk formalitas saja tepatnya. Namun, saya ingat ketika saya membaca tulisan di papan tulis-mungkin saat itu saya duduk di kelas sementara bekas kakak kelas 11- yang bertuliskan seperti ini: UI, UGM, ITB, Unpad, Unsil, UPI, STAN, dll. Saya yang saat itu masih polos (baru kelas 10) mulai mengerucutkan kening saya. “Kok SMA kelas 11 udah mikir kuliah sih? Emang perlu banget gitu ya lanjutin kuliah?”, kata saya dalam hati.
Kapan saya mulai mengokohkan jembatan saya?
Saat itu saya sedang menonton acara televisi program “Satu Jam Lebih Dekat” yang kebetulan tokohnya adalah alumni ITB. Tiba-tiba Ayah saya berbicara seperti ini, “Neng, pami resep elmu eksak, ka ITB we. Tuh siga tokoh eta.” Saya tidak segera merespon perkataan Ayah tersebut. Saya hanya terdiam dan bahkan merasa gentar mendengar kata ITB.
Waktu berlalu, dan tibalah 23 Februari 2011. Saya harus memulai masa remaja ini dengan ujian yang sangat berat. Ayah saya, saat itu Allah panggil kepada pangkuan-Nya. Saya, adik-adik saya kini menjadi yatim. Saya ingat, bagaimana perjuangan teman-teman saya untuk menghibur bahkan menemani saya sampai kini . (Terima kasih teman-teman yang telah rela mengantarkan jenazah Ayah saya saat itu. Semoga Allah membalas kebaikanmu J ).
Saya yang dulunya tidak tahu untuk apa saya sekolah, akhirnya setelah berbulan-bulan saya merenungi hal ini, ternyata perkataan orang tua adalah doa. Saya mungkin tidak menyadari bagaimana saat itu Ayah mendoakanku agar saya bisa kuliah. Bahkan Ayah saya sering berkata bahwa segala sesuatu yang Ayah dan Ibu punya, semata-mata adalah untuk anak-anaknya. Saya yakin, inilah awal saya untuk mengokohkan jembatan saya. Walaupun berawal dari ujian berat, namun saya percaya bahwa ini adalah sebuah niat besar untuk langkah saya selanjutnya.
Bagaimana saya menghiasi jembatan saya dengan ornamen yang indah?
Masa remaja, masa sekolah menengah atas, merupakan masa di mana saya sedang berada pada sebuah jembatan kehidupan. Saya menyadari bahwa jembatan ini sangat sensitif, mudah roboh, bahkan terombang-ambing arus bahari. Saya haru bisa mengokohkannya. Kokoh saja rasanya tidak cukup. Saya harus bisa menghiasinya dengan sejumlah ornamen indah dan cantik. Apa itu?
Saat SMA, saya sudah sadar bahwa belajar adalah kebutuhan. Namun, tujuan saya masih belum jelas. Saya terkadang belajar hanya sekedar belajar. Bahkan demi meraih nilai tinggi pun, saya pernah mengalaminya. Namun, kehidupan saya di kelas 11, mengubah pola pikir saya. Saya mulai dikenalkan dengan dunia organisasi. Saya yang belum pernah mengalami dunia tersebut sebelumnya, merasa bahwa organisasi adalah hal baru dalam kehidupan saya. Di dunia baru tersebut, hal yang paling penting yang saya dapat adalah bagaimana memiliki sense yang tinggi terhadap lingkungan sekitar. Banyak sekali yang saya dapat saat itu. Mulai dari kualitas sosial yang semakin baik, bahkan arahan akan tujuan hidup saya nanti, yakni saya kuliah untuk apa sih? Mungkin teman-teman di sini bertanya, apa hubungannya organisasi dengan pengaruh masa depan saya?
Ya, saya yang dulu tiba-tiba aktif mulai merasa percaya diri bahwa kehidupan ini tidak akan berjalan sendirian, kehidupan itu perlu diatur, kehidupan itu dinamis, dan kehidupan itu tergantung pada sebesar apa kontribusi kita terhadap kehidupan. Saya masih ingat kata-kata mentor saya di SMA, “Sukses itu distribusi. Sukses itu kontribusi”. Singkatnya, saya mengenal pentingnya visi dan dunia masa depan itu dari kakak-kakak dan teman-teman seperjuangan SMA.
Saya yang tengah menghiasi jembatan saya tersebut, tentunya menempatkan belajar sebagai prioritas. Belajar apa saja? Apa pun! Saya mendengar, saya mengamati, saya menganalisis, saya melakukan, saya berbicara, adalah sebagian dari bagaimana saya belajar. Saya selalu bertekad bahwa belajar adalah kebutuhan. Saya sangat membutuhkan bimbingan para Bapa Ibu guru agar saya tidak tersesat nanti. Saya juga membutuhkan ilmu tambahan dari teman-teman saya jika saya tidak mengerti, bahkan saya pun tidak pelit jika ada yang meminta untuk saling belajar. Intinya, berbagilah. Dan satu hal yang paling penting, “jangan lupa untuk selalu mendoakan orang lain.” Itu saja cukup, sebagai hiasan terindah jembatanku. Belajar dan berbagi.
Saat ku dibangun dulu di dunia pendidikan, aku bertanya akan jadi apa? saya sudah sekokoh apa?
Kelas 11 akhir, saya mencoba menghiasi kembali jembatanku dengan mengikuti berbagai kompetisi. Saya pernah ikut seleksi LCC Fisika, LCC Empat Pilar kehidupan Berbagsa dan Bernegara, OSN fisika tingkat kota. Namun, saya belum pernah menduduki kursi juara. Belum. Bukan berarti bahwa saya tidak bisa, tapi saat itu memang belum waktunya untuk juara.  Walaupun hasilnya belum maksimal, namun itulah hiasan. Terkadang hiasan itu terlihat jelek di mata orang lain, namun bagiku sangat indah. Saya bisa memetik pelajaran berharga bahwa belajar itu terkadang membuat kita lupa apa yang sudah kita pelajari hari itu juga. Tapi pengalaman, tidak akan pernah lupa walaupun sudah seribu tahun kita melewatkan pengalaman itu.
Kelas 12, saya masih merasa bahwa jembatanku masih mudah goyah, masih belum kokoh. Saya masih merasakan dahaga ilmu pengetahuan, bahkan pengalaman. Saya harus bangkit dan sadar bahwa saya sebentar lagi akan menuju tangga yang curam. Ya, dunia kelas 12 memang dunia yang galau, penuh dengan kebimbangan. Ya gak teman-teman? Tapi, saya sudah menyiasatinya. Saya kan ingat kata-kata Ayah saya, “Eneng harus kuliah, tapi kuliah yang gratis”, katanya.
Berbulan-bulan saya memohon petunjuk kepada-Nya, akhirnya saya bermimpi bahwa saya sekolah di ITB. Persis seperti apa yang diharapkan Ayah. Tapi saya masih bingung, saya mau kuliah di ITB untuk apa? Mau jadi apa?

Apa yang saya rasakan saat menaikki tangga menara?
Saat itu, papan tulis di kelasku sudah penuh dengan tulisan cita-cita. Ada yang ingin masuk UI, ITB, UGM, STAN, dll. Saya termasuk orang yang terlambat menuliskan cita-cita saya di papan tulis. Saya masih merahasiakan dan mematangkan visi kuliah saya.
Terlintas saya berpikir untuk memilih jurusan Teknik Lingkungan ITB. Awalnya, saya mencari info-info Perguruan Tinggi yang menyediakan program studi Teknik Lingkungan. Mulai dari UI, UII, Undip, ITS, dan ITB. Namun, saya memilih ITB karena selain dekat dengan daerah saya, ITB merupakan perguruan tinggi yang banyak diserbu siswa kelas 12 SMA.  Akhirnya, saya berani menuliskan cita-cita di papan tulis, Hanifah : FTSL ITB. Perasaan saya? Saya bersyukur karena saya sudah punya tujuan. Saya bersyukur, siapapun yang membaca tulisan tersebut akan saya aamiinkan.
Mungkin teman-teman di sini bertanya, kenapa saya memilih FTSL? Ya, saya tiba-tiba terketuk hati dan pikiran saya untuk membangun daerah saya, Tasikmalaya. Saya tahu bahwa daerah ini dulu terkenal dengan sebutan kota resik. Saya tahu bahwa kota ini harus dibenahi bahkan dipertahankan eksistensinya dalam hal kebersihan. Karena itulah, saya ingin menjadikan daerah saya sebagai role model penanganan permasalahan lingkungan bahkan penyediaan infrastruktur terbaik. Jadi, singkatnya saya ingin menjadi seorang rekayasawan.
Namun, saya harus sadar. Menjadi seorang dosen adalah cita-cita saya sejak SMP. Saya ingin seperti Ayah saya yang selalu mengajarkan prinsip-prinsip keilmuannya pada mahasiswanya. Tidak hanya itu, Ayah saya pun sangat berwibawa menjadi seorang dosen. Lantas, mengapa saya memilih ITB sebagai tujuan saya?
Saya sudah tahu bahwa seorang insinyur memiliki ruang kerja yang luas. Mereka bisa menjadi konsultan, ahlli riset, bahkan pendidik pun. Jadi, tidak masalah saya kuliah di ITB hanya karena ingin jadi dosen. Yang jelas, kelak nanti saya akan menjadi alumnus yang berbakti pada negeri, daerah, bahkan pendidikan. Bukan hal yang mungkin bahwa ketika saya menjadi dosen nanti, prinsip-prinsip keteknikan tidak akan terpakai. Bukankan nanti saya akan membenahi daerah saya melalui berbagai proyek yang akan saya jalankan nanti? Insya Allah.
Itu masih angan-angan, teman. Tapi itu penting, agar kita bisa meramalkan akan jadi apa kita di masa depan. Di tangga menara ini, saya sudah bisa memikirkan akan jadi apa saya nanti, dan harus bisa berani melangkah untuk menuju menara tersebut, Institut Teknologi Bandung.

Apakah saya bisa sampai menara tersebut?
Saya yakin bahwa episode ketika saya sampai di menara itu merupakan hal yang tidak akan pernah terlupakan. Atas karunia-Nya, atas doa orang tua, para guru, dan teman-teman  tentunya, akhirnya saya bisa melihat dengan dekat bagaimana menara itu ada. Saya diterima di ITB agar saya bisa membuktikan sejauh mana saya mampu mewujudkan cita-cita saya. Karena di menara itu, saya bisa melihat kehidupan yang luas dari atas menara, bahkan saya bisa melihat indahnya masa lalu yang mengantarkanku hingga sampai di atas menara. Dan saya pun bahagia karena sejak saya dinyatakan sampai di menara tersebut, kakak-kakak paguyuban sudah menyambutku dengan hangat.
Hal yang sangat penting dari cerita saya di atas adalah, di atas menara pasti ada menara. Di atas langit masih ada langit. Untuk apa saya sombong karena sudah sampai di menara tersebut? Untuk apa saya kuliah jika hanya sekedar gengsi? Untuk apa saya kuliah jika tak mau berkontribusi?

Apa pesan untuk adik-adikku di Tasikmalaya?
Teman-teman, adik-adikku yang saya banggakan. Tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini, asalkan kita percaya pada-Nya. Jadilah orang yang climbers ketika menemui tantangan, karena climbers adalah orang yang tidak mudah menyerah dan terus semangat menaikki gunung tantangan. Tapi janganlah jadi orang yang campers, ia adalah tipe orang yang selalu mencari zona aman. Dan janganlah juga jadi quitters karena ia selalu menyerah sebelum mencoba. Itu adalah kata-kata Pak Sammy Sumargo, alumnus ITB 1964.
Teman-teman, mari kita sama-sama menikmati indahnya proses. Karena buah daripada perjuangan itu adalah proses, bukan hasil. Hasil hanya sebagai imbalan tambahan saja. Tentu perjuangan akan semakin bernilai jika kita benar-benar berjuang dengan tulus. Sekali lagi, ketulusan adalah energi yang akan menggerakkan niat kita sehingga langkah kita selanjutkan akan terasa bernakna.
Teman-teman, jika masih ada yang menganggap bahwa kuliah itu sulit, mahal, dan melelahkan, maka marilah kita sama-sama merenungkan bagaimana jadinya negara tercinta ini jika masyarakatnya tidak peduli dengan bangsanya? Dengan kuliah, kita bisa meningkatkan kualitas pengetahuan kita. Bukan hanya itu, dunia perkuliahan mengajarkan kita untuk peka terhadap lingkungan sekitar, dan masih banyak lagi. Peganglah dengan teguh janji Tuhan bahwa Tuhan pasti memberikan rezeki-Nya pada siapapun yang dikehendaki-Nya. Karena pada hakikatnya, mencari ilmu itu wajib kan teman-teman? Dari mulai ia lahir sampai mati. Terakhir, ingatlah bahwa daun tidak pernah marah ketika diterpa angin. Oleh karena itu, kita sebagai manusia jangan kalah sama daun ya? Kita harus bisa bertahan dari segala tantangan, dan jadilah pemenangnya.

Bandung, 24 November 2013
Hanifah Nurawaliah

“Untuk Tasikmalaya”

Senin, 18 November 2013

Kehidupan, Karier, dan Karya Istimewa Bapak “Pondasi Cakar Ayam”


Rekayasawan tentu harus menerapkan pengetahuan untuk menciptakan karya bagi masyarakat. Bukan seorang rekayasawan jika tidak menghasilkan “sesuatu” yang bermanfaat karena hakikat seorang rekayasawan adalah to solve the problem. Satu diantara banyak rekayasawan dunia yang diakui karyanya yaitu Prof. Dr.(HC) Ir. R. M. Sedyatmo (1909-1984), salah satu putera terbaik bangsa dengan karyanya yang terkenal: “Pondasi Cakar Ayam”.
Beliau lahir di Karanganyar, Jawa Tengah pada 24 Oktober 1909. Nama kecilnya ialah R.M Sarwanto, kemudian berganti nama menjadi Sedyatmo yang diharapkan kelak menjadi anak yang berguna bagi masyarakat, nusa, dan bangsa. Beliau merupakan putra Mangkunegaran yang besar dalam lingkungan aristodemokrasi, artinya keluarga aristokrat yang menganut paham demokrasi dalam kehidupan harian mereka. Dalam lingkungan seperti ini beliau bertumbuh dan belajar untuk menciptakan peluang. Kehidupan kecilnya yang kreatif dan senang berimajinasi terbukti dengan kesenangannya membuat “benang gelasan” berbobot, bahkan menciptakan pabrik dari kotoran kerbau sebagai bahan permainan di masa kecilnya. Sedyatmo kecil dijuluki “Si Kancil” karena kecerdikannya dalam berpikir bahkan beliau sudah mampu berpikir kritis dan berjiwa integritas, dibuktikannya saat beliau berinteraksi dengan gurunya mengenai bentuk bumi yang bulat sedangkan beliau tidak memercayainya. Barulah setelah mendapat penjelasan dari gurunya, akhirnya beliau menerima dan mengakui kesalahannya.
Atas dukungan para guru di sekolah, Sedyatmo melangkah maju untuk menempuh pendidikan tinggi di Technische Hoge School (THS) atau sekarang dikenal dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Kepribadiannya yang senang “berkhayal namun pasti” terlihat saat beliau mampu mengalahkan dosennya dengan menjawab persoalan bilangan khayal yang rumit. Beliau diyakini akan menjadi insinyur yang hebat walaupun nilai rata-ratanya tidak terlalu tinggi. Pandangan hidup yang religious membawa kehidupannya menjadi inspirasi bagi orang banyak. Beliau meyakini istilah “aji-aji pancasana” atau senjata lima serangkai yang Tuhan beri kepada manusia: imajinasi, intelektual, intuisi, inspirasi, dan insting.
Selesai dari THS pada 1934, Sedyatmo bekerja sebagai insinyur perencanaan di berbagai instansi pemerintah. Beliau membangun Jembatan air Wiroko, selesai tahun 1937, meskipun dihadapkan dengan berbagai tantangan. Karya tersebut dicapainya sebagai awal perjuangan untuk menghasilkan karya selanjutnya. Karyanya yang sangat istimewa yaitu "Pondasi Cakar Ayam" pada tahun 1962. Temuan Sedyatmo yang merupakan hasil inspirasi dari akar pohon kelapa tersebut, awalnya digunakan dalam pembuatan apron Pelabuhan Udara Angkatan Laut Juanda, Surabaya, landasan bandara PoloniaMedan, dan landasan bandara Soekarno-HattaJakarta. Beberapa karya Sedytamo lainnya yang terkenal diantaranya pompa hidrolis, bendungan Jatiluhur, bahkan jembatan Suramadu yang menerapkan sistem seperti pondasi cakar ayam tersebut. Atas karyanya dalam pembuatan bendungan Jatiluhur, pemerintah Perancis memberinya penghargaan Chevalier de la Legion d’Honneur.
Pondasi cakar ayam terdiri dari plat dan beton bertulang dengan tebal 10-15 cm, tergantung dari jenis konstruksi dan keadaan tanah di bawahnya. Di bawah plat beton dibuat sumuran pipa-pipa dengan jarak sumbu antara 1,20 m, tebal 8 cm, dan panjangnya tergantung dari beban di atas plat serta kondisi tanahnya. Untuk pipa dipakai tulangan tunggal, sedangkan untuk plat dipakai tulangan ganda. Sistem pondasi cakar ayam sangat sederhana, sehingga cocok sekali diterapkan di daerah dengan peralatan modern dan tenaga ahli yang sulit didapat. Sampai batas-batas tertentu, sistem ini dapat menggantikan pondasi tiang pancang. Untuk gedung berlantai 3-4 misalnya, sistem cakar ayam biayanya akan sama dengan pondasi tiang pancang 12 meter.
Menjelang usia pensiun, beliau aktif bergabung dengan Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik sampai tahun 1976. Perjuangan atas karyanya telah dibuktikan melalui proyek di Cengkareng berupa Jalan Bebas Hambatan atau Jalan Tol menuju Bandara Soekarno-Hatta. Karya-karya beliau mendapat pengakuan dunia hingga akhirnya dipatenkan dan dipakai di luar negeri. Tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan, beliau berjuang dengan pantang menyerah dan penuh kesabaran.
Pondasi Cakar Ayam memiliki hak paten dari 10 negara. Selain itu beliau juga memiliki hak paten atas pipa pesat sistem Indonesia yang dipatenkan di lima negara asing. Sehingga banyak orang asing yang melamar hasil temuan cakar ayamnya. Namun Pak Sedyatmo menunjukkan bagaimana menjadi seorang nasionalis. Di saat dukungan dari bangsa sendiri belum diperoleh. Beliau tetap bertahan pada idealismenya untuk memersembahkan penemuannya bagi bangsa Indonesia.
Atas jasanya kepada almamater, saat Lustrum ketiga (Dies Natalis ke-15) Institut Teknologi Bandung tanggal 2 Maret 1974, beliau menerima penghormatan berupa Doctor Honoris Causa dalam Ilmu pengetahuan Teknik dari Senat ITB, atas dasar penilaian terhadap jasa-jasanya sebagai Insinyur, dengan promotor Prof. Ir. Soetedjo.
Nama Sedyatmo kemudian diabadikan sebagai nama jalan bebas hambatan dari Jakarta menuju bandara Soekarno-Hatta. Profesor Sedyatmo meninggal dunia di usia 75 tahun pada 1984 dan dimakamkan di Karanganyar. Pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputra Kelas I kepada Sedyatmo atas jasa-jasanya.
Sangat cocok sekali dengan kalimat berikut ini, “If it ain’t broke, it doesn’t have enough features yet.” Seorang rekayasawan akan selalu pantang menyerah dan tetap berkarya demi kemanfaatan kehidupan masyarakat. Belajar dari sosok Bapak pencipta “Pondasi Cakar Ayam” tersebut, kita menemukan salah satu nilai penting bagi seorang rekayasawan atau insinyur, yaitu pengabdian. Rekayasawan akan menerapkan kemampuan pengetahuannya untuk menciptakan “karya” yang bermanfaat bagi masyarakat.
Kehidupan Bapak Sedyatmo menggambarkan kepada kita, khususnya calon rekayasawan terbaik bangsa, agar selalu menempatkan nilai-nilai religious dalam segala aspek. Tentu tidak baik jika dalam menjalankan profesinya, seorang rekayasawan mementingkan kepentingan ego semata, bukan kepentingan sesama makhluk Tuhan. Seorang rekayasawan sejati ialah pembangun peradaban, bukan penghancur peradaban.
Realitasnya, karya-karya istimewa Bapak Sedyatmo dapat kita rasakan hingga saat ini. Salah satunya dengan adanya Jalan Tol menuju Bandara Soekarno-Hatta, akses jalur transportasi semakin mudah sehingga selain dapat meningkatkan perekonomian sekitar, juga menjadi indikator kemajuan bangsa dari sisi pembangunan. Tentu saja, karya-karya tersebut—infrastruktur dan non-infrastruktur—harus kita jaga keberadaannya.
Itulah ulasan sedikit mengenai kehidupan, karier, dan karya sang inspirator negeri dalam pembangunan, sang inovator negeri dalam pembaharuan, dan negarawan sejati dalam pengabdian. Seorang rekayasawan yang mampu menyuarakan karya anak negeri ke belahan dunia dan mengharumkan jejak pembangunan Indonesia.

Oleh: Hanifah Nurawaliah
16613087
Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Institut Teknologi Bandung

Sumber :
sipil.ft.unsri.ac.id/index.php/forum/view-postlist/forum-18-lain-lain/topic-3-7- isinyur-sipil-indonesia-paling-berpengaruh
http://id.wikipedia.org/wiki/Sedyatmo






Selasa, 02 Juli 2013

WHAT DO YOU FEEL? AND WHAT WILL YOU DO?

Indonesia Kaya Sumber Daya, Kaya Sampah
Oleh: Hanifah Nurawaliah
Masyarakat Indonesia tentu tidak asing lagi dengan sampah. Masyarakat sudah mengetahui definisi sampah, macam-macam sampah, dan upaya pengolahannya. Namun ironis, pengetahuan tentang sampah hanya sebatas teori. Sedikit sekali masyarakat memahami dan mengenal dekat dengan sampah. Oleh karena itu, pemahaman dan pelaksanaan upaya pengolahan sampah harus sudah menjadi paradigma masyarakat Indonesia sebagai masyarakat yang beradab dan beretika lingkungan.
Anggapan sampah sebagai benda yang tidak fungsional, perlu dikoreksi. Menurut definisi secara umum, sampah merupakan benda hasil sampingan kegiatan manusia, seperti kegiatan industri dan rumah tangga. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sampah adalah barang atau benda yang dibuang karena tidak dipakai lagi. Dalam hal ini, masyarakat harus cerdas memahami definisi. Jangan sampai sebuah definisi dipahami secara parsial. Hal ini ditakutkan akan menjadi suatu anggapan bahwa sampah memang tidak bisa difungsikan kembali sebagai material yang memiliki fungsi baru. Oleh karena itu, totalitas pemahaman mengenai definisi sampah mesti dilakukan agar pandangan negatif tentang sampah dapat diminimalisasi.
Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, ternyata kaya pula akan sampah. Sangat mudah sampah ditemukan di bumi pertiwi ini, apalagi sampah anorganik jenis plastik. Sampah sangat erat kaitannya dengan kegiatan konsumsi manusia. Hal ini akan meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Artinya, volume sampah yang dihasilkan berbanding lurus dengan tingkat konsumsi penduduk suatu tempat.  (www.tempo.co, Minggu 15 April 2012) Parliza mengemukakan “Kementrian lingkungan hidup mencatat rata-rata penduduk Indonesia menghasilkan sekitar 2,5 liter sampah per hari atau 625 juta liter dari jumlah total penduduk”. Ngerikah anda dengan angka tersebut? Bukan masalah angka, tetapi sejauh mana sampah-sampah tersebut dikelola dengan baik. Direktur Jenderal Cipta Karya Kementrian PU, Budi Yuwono mengatakan sejauh ini baru 54 persen volume sampah nasional yang bisa ditangani secara baik karena diangkut menjauhi wilayah pemukiman. (www.tempo.co, Kamis,04 Oktober 2012).
Apakah masyarakat kita sadar bahwa sampah merupakan salah satu sumber daya yang luar biasa?
Masyarakat cerdas tentu akan menjadikan masalah sampah sebagai peluang investasi bahkan sumber daya terbarukan. Julukan Indonesia Negara Sampah harus sudah mulai dihilangkan dan dilupakan dalam benak bangsa. Dengan segala kekayaan sumber daya yang ada, Indonesia justru sedang dihadapkan dalam dua pilihan, yakni  menjadikan sampah sebagai sumber daya terbarukan atau dibiarkan menjadi sampah abadi (eternal rubbish)? Volume sampah Indonesia yang sangat besar merupakan kekayaan bangsa yang belum disadari oleh masyarakat. Sebagian masyarakat  masih ‘jijik’ dengan sampah sehingga menimbulkan sikap apatis terhadap pentingnya mengolah sampah.
Salah satu masalah yang cukup mendasar yaitu sistem pemilahan sampah di Indonesia yang buruk. Sampah dibuang sembarangan, tidak peduli mana sampah organik dan anorganik. Kemudian sampah tersebut ditampung, ditimbun, bahkan ada yang langsung dibakar tanpa memerhatikan teknik yang baik. Akibatnya, timbul masalah lingkungan yang baru. Oleh karena itu, pemilahan sampah semestinya dilakukan mulai dari lingkungan rumah (start  at home), bahkan sangat baik apabila hal ini semakin memasyarakat.
Mengapa sampah bisa dikatakan sumber daya yang potensial? 
Dalam hal ini, sampah plastik merupakan jenis sampah anorganik yang paling banyak dihasilkan di Indonesia. Selain dapat didaur ulang, sampah plastik pun dapat dijadikan bahan baku produksi sandang dan papan. Di Tasikmalaya, sudah dibuat baju dengan bahan baku sampah plastik yang diproses terlebih dahulu sehingga plastik dapat disulap menjadi pakaian. Sampah plastik pun dapat dijadikan bahan bangunan dengan cara memanfaatkan abu hasil pembakaran sampah dengan suhu tinggi kemudian dicampur dengan material lain sehingga dapat dibentuk menjadi  batu bata sampah. Berbagai kerajinan tangan dari sampah pun, kini sudah bisa berkembang walaupun belum memasyarakat. Jadi, sampah dapat dijadikan sumber daya terbarukan yang bernilai ekonomis dan estetis, tidak seperti bentuk sampah sebelum diolah.
Pengolahan sampah harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi karena teknologi memudahkan manusia dalam setiap pekerjaan. Kualitas Sumber Daya Manusia dapat dibuktikan dengan kemampuan setiap insan untuk  ‘melek’ teknologi.  Oleh karena itu, supaya sumber daya sampah Indonesia dapat dimaksimalkan manfaatnya, masyarakat harus mampu menggunakan teknologi tepat guna sehingga pengolahan sampah berlangsung secara efektif dan efisien.
Hal yang paling fundamental  ialah kesadaran masyarakat. Masyarakat semestinya bangga karena Indonesia merupakan negara penghasil sampah terbesar di Asia setelah China. Sebaliknya, bangsa  Indonesia wajib malu apabila sampah sama sekali tidak dimanfaatkan. Tidak seperti di Jepang dan Jerman, kedua negara tersebut sangat membutuhkan sampah, layaknya membutuhkan sandang, pangan, dan papan. Sampah-sampah tersebut diolah menjadi produk baru yang lebih unik dan fungsional.
Oleh karena itu, mari kita jadikan sampah sebagai sumber daya terbarukan yang potensial dan bernilai dalam segala bidang. Kelak, perlakuan masyarakat terhadap sampah akan sama halnya dengan perlakuan terhadap tumbuhan dan benda lainnya. Sebagai contoh, tumbuhan dipelihara manusia mulai dari pembibitan sampai tumbuh menghasilkan manfaat bagi manusia. Begitu pula dengan sampah, jika kita memanfaatkannya dengan baik, maka akan menjadi sesuatu yang berguna (from nothing to be usefull). Apabila pengolahan dan pemanfaatan sampah sudah dilaksanakan dengan baik di Indonesia, maka tidak ada lagi sampah yang berserakan. Semua jenis sampah dipilah dan diolah menjadi barang atau material baru yang fungsional.



Kamis, 27 Juni 2013

free writing for GWC (Gamais Writing Competition)

Hal Ketujuh dari Tujuh Hal
Saat itu, entah kapan waktunya, saya beserta Ayah tengah menonton sebuah program televisi, Satu Jam Lebih Dekat. Program tersebut membahas sisi kehidupan salah seorang tokoh bangsa. Karena saat itu saya masih SMP, saya pun lupa siapa nama tokoh tersebut. Saya ingat Ayah berbicara seperti ini,”Néng, kalau suka sains, masuk ITB aja atuh. Tingal tuh Bapa éta , sekolahnya di ITB”. Dengan logat sundanya yang “gado-gado”, Ayah mengajakku diskusi namun saya tidak segera merespon pernyataan Ayah, saya diam.
Tahun 2011 lalu, keluargaku harus menerima kenyataan. Allah memanggil Ayahku dengan cepat setelah satu tahun menjalani cuci darah. Satu hal yang paling saya ingat tentangnya, Ayahku sangat memerhatikan masa depan anaknya. Selama lima belas tahun, Ayah telah mengajariku arti hidup.
Sudah dua tahun lebih keluargaku ditinggal Ayah tercinta. Kini, saya dan ketiga adik saya menjadi yatim. Usia anak-anak Ayah memang sedang “cukupan”. Saya sebagai anak sulung, terdorong lebih kuat untuk menjadi tulang punggung keluarga tercinta. Pasalnya, Ibuku tentu tidak selamanya produktif mencari nafkah. Usaha “kostan” yang digeluti Ibu terkadang tidak menentu. Saya harus mengetahui hal yang pertama: Bagaimana mendapatkan beasiswa.
Tiga huruf yang paling saya kenang dari Ayah: I, T, dan B. “Institut Teknologi Bandung”, perguruan tinggi ternama di Indonesia. Saya tahu, begitu banyak putra/i bangsa yang ingin kuliah di sana. Terlintas, saya pun berminat untuk kuliah di ITB. Berbagai macam ikhtiar saya lakukan dengan pantang menyerah agar bisa kuliah di sana dengan cara meningkatkan kualitas dan kuantitas belajar, serta memahami sosok diri yang sebenarnya.
Masa-masa galau memilih program studi kuliah sempat saya alami. Pernah saya ditanya oleh salah seorang teman sekelas mengenai hal itu. “Nip, mau ke mana?”, begitu katanya. Saya tahu kalau di kelasku cukup banyak yang ingin masuk ITB, bahkan yang pilihan fakultasnya sama dengan pilihan saya cukup banyak pula. Dengan jawaban yang tidak meyakinkan, aku menjawab, “ITB mungkin!”. Kata “mungkin” saat itu masih gemar saya ucapkan. Padahal, kata tersebut menunjukkan parameter keyakinan seseorang akan hal yang diucapkannya. Saya memang tidak tegaan jika ada teman saya yang ingin masuk ke fakultas pilihan saya, kesannya ya “menambah saingan”. Kata orang, katanya saya pasti lulus di ITB karena nilai. Saya pikir, nilai tidak serta merta menunjukkan kualitas diri yang sebenarnya. Saya harus yakin akan hal itu. Bagaimana untuk membuktikannya? Saya rasa ini hal yang penting untuk diwujudkan.
Akhirnya, papan tulis kelas sudah cukup penuh bertuliskan nama teman di kelas berikut cita-citanya. Sudah tertulis di sana, “Hanifah : FTSL ITB.” Ya, inilah fakultas yang menjadi tujuan saya selama ini. Setelah berhari-hari saya menggalau, akhirnya saya menemukan yang kedua: Indonesia membutuhkan manusia yang solutif dalam menanggapi masalah lingkungan hidup.
27  Mei 2013, merupakan momen bersejarah bagi peserta SNMPTN 2013. Bersama langkah kaki yang begitu cepat melangkah, takut tertinggal informasi, saya menuju warnet dan membuka pengumuman SNMPTN 2013. Setelah akun saya masuk, alhamdulillah saya diterima di FTSL ITB. Lantas, saya pun terdiam dan merasa tidak percaya. Akhirnya, tetesan air mata mengapresiasi perasaan saya. Tiba-tiba saja, saya mendapatkan pesan singkat dari saudara saya, Ukh. Tsany: “Ukh keterima gak? Jika Allah menakdirkan Ukhti di ITB, berarti Allah menyertakan kado rezeki-Nya di sana.” Itulah pesan yang membangkitkan perasaan saya karena di samping saya bersyukur dapat lolos seleksi SNMPTN, saya masih menyimpan kegundahan hati, yaitu bagaimana cara mendapatkan beasiswa. Saya membatalkan pengajuan Bidik Misi karena saya merasa ada yang lebih berhak daripada saya. Saat itu saya menemukan hal yang ketiga: Allah tidak pernah lengah dari urusan makhluk-Nya, termasuk rezeki.
Meskipun sudah dinyatakan lulus seleksi SNMPTN, perasaan saya masih belum tenang. Keluarga saya mengharapkan saya untuk kuliah di sekolah kedinasan. Saya sempat bersedih hati, bingung, dan keras hati. Mimpi saya mungkin akan terhenti jika saya bersekolah di sekolah kedinasan. Saya yang idealis, mesti tahu arti realistis. Mungkin Ibu tidak akan terlalu berat jika saya dapat kuliah di sekolah kedinasan. Namun saya bersikukuh dan menemukan perihal yang keempat:  Saya yakin bahwa belajar itu untuk bekerja, tetapi bekerja untuk belajar itu penting. Saya pun yakin karena dunia pekerjaan menyimpan banyak pembelajaran.
Alhamdulillah setelah doa kupanjatkan kepada Dia yang Maha Pengabul doa, akhirnya keluarga saya mendukung saya ke ITB dan menyarankan saya untuk tidak mengikuti seleksi sekolah kedinasan-mohon maaf, sekolah kedinasan juga bagus kok-. Hal yang paling membuat keluargaku merasa lega adalah adanya subsdi Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan dibukanya kembali program Beasiswa ITB Untuk Semua (BIUS). Meskipun saya masih memperjuangkannya, belum ada kepastian UKT saya berapa nominalnya, namun saya yakin akan rencana-Nya yang begitu indah. Saya percaya untuk hal yang kelima: Allah Mampu Membolak-balikkan hati manusia.
Video motivasi dari kakak-kakak GAMAIS tentang “Pesawat Kertas”, mengetuk mata hati saya, “Untuk apa saya kuliah?”. Bagi saya, kuliah merupakan salah satu jalan untuk menemukan jati diri. Saya ingin mendapatkan “Ilmu Gajahnya Ganesha” yang sangat edukatif, unik, dan inspiratif. Disamping ingin mendapatkan kualitas pembelajaran yang baik, “ilmu hidup” di kampus Ganesha ingin saya raih pula melalui kegiatan kemahasiswaan yang bermanfaat. Saya tengah merenungkan hal yang keenam: Bagaimana cara agar saya menjadi mahasiswa berpengaruh di ITB?
Saya mesti paham bahwa pada diri pemuda, di sanalah ada perubahan. Menjadi guru besar ITB merupakan sebagian dari tujuan saya. Secara esensial, saya masih akan terus mencari jati diri, terus belajar, mengabdi, dan menginspirasi. Menjadi cahaya bagi keluarga tercinta dan sesama merupakan bentuk pengabdian saya, asalkan dengan ketulusan. Semoga saya dan keluarga tercinta dapat bertemu dengan sosok pementor terbaikku, Ayah, di syurga-Nya nanti. Inilah hal ketujuh yang paling saya sukai, sebuah Hadits Rasulullah SAW yang begitu menginspirasi: “Barang siapa yang menempuh jalan yang padanya ia menuntut ilmu, maka Allah menempuhkan jalannya ke syurga (H.R Muslim dari Abu Hurairah)”.
Tasikmalaya, 27 Juni 2013

Hanifah Nurawaliah, Camaba FTSL ITB 2013