Kamis, 27 Juni 2013

free writing for GWC (Gamais Writing Competition)

Hal Ketujuh dari Tujuh Hal
Saat itu, entah kapan waktunya, saya beserta Ayah tengah menonton sebuah program televisi, Satu Jam Lebih Dekat. Program tersebut membahas sisi kehidupan salah seorang tokoh bangsa. Karena saat itu saya masih SMP, saya pun lupa siapa nama tokoh tersebut. Saya ingat Ayah berbicara seperti ini,”Néng, kalau suka sains, masuk ITB aja atuh. Tingal tuh Bapa éta , sekolahnya di ITB”. Dengan logat sundanya yang “gado-gado”, Ayah mengajakku diskusi namun saya tidak segera merespon pernyataan Ayah, saya diam.
Tahun 2011 lalu, keluargaku harus menerima kenyataan. Allah memanggil Ayahku dengan cepat setelah satu tahun menjalani cuci darah. Satu hal yang paling saya ingat tentangnya, Ayahku sangat memerhatikan masa depan anaknya. Selama lima belas tahun, Ayah telah mengajariku arti hidup.
Sudah dua tahun lebih keluargaku ditinggal Ayah tercinta. Kini, saya dan ketiga adik saya menjadi yatim. Usia anak-anak Ayah memang sedang “cukupan”. Saya sebagai anak sulung, terdorong lebih kuat untuk menjadi tulang punggung keluarga tercinta. Pasalnya, Ibuku tentu tidak selamanya produktif mencari nafkah. Usaha “kostan” yang digeluti Ibu terkadang tidak menentu. Saya harus mengetahui hal yang pertama: Bagaimana mendapatkan beasiswa.
Tiga huruf yang paling saya kenang dari Ayah: I, T, dan B. “Institut Teknologi Bandung”, perguruan tinggi ternama di Indonesia. Saya tahu, begitu banyak putra/i bangsa yang ingin kuliah di sana. Terlintas, saya pun berminat untuk kuliah di ITB. Berbagai macam ikhtiar saya lakukan dengan pantang menyerah agar bisa kuliah di sana dengan cara meningkatkan kualitas dan kuantitas belajar, serta memahami sosok diri yang sebenarnya.
Masa-masa galau memilih program studi kuliah sempat saya alami. Pernah saya ditanya oleh salah seorang teman sekelas mengenai hal itu. “Nip, mau ke mana?”, begitu katanya. Saya tahu kalau di kelasku cukup banyak yang ingin masuk ITB, bahkan yang pilihan fakultasnya sama dengan pilihan saya cukup banyak pula. Dengan jawaban yang tidak meyakinkan, aku menjawab, “ITB mungkin!”. Kata “mungkin” saat itu masih gemar saya ucapkan. Padahal, kata tersebut menunjukkan parameter keyakinan seseorang akan hal yang diucapkannya. Saya memang tidak tegaan jika ada teman saya yang ingin masuk ke fakultas pilihan saya, kesannya ya “menambah saingan”. Kata orang, katanya saya pasti lulus di ITB karena nilai. Saya pikir, nilai tidak serta merta menunjukkan kualitas diri yang sebenarnya. Saya harus yakin akan hal itu. Bagaimana untuk membuktikannya? Saya rasa ini hal yang penting untuk diwujudkan.
Akhirnya, papan tulis kelas sudah cukup penuh bertuliskan nama teman di kelas berikut cita-citanya. Sudah tertulis di sana, “Hanifah : FTSL ITB.” Ya, inilah fakultas yang menjadi tujuan saya selama ini. Setelah berhari-hari saya menggalau, akhirnya saya menemukan yang kedua: Indonesia membutuhkan manusia yang solutif dalam menanggapi masalah lingkungan hidup.
27  Mei 2013, merupakan momen bersejarah bagi peserta SNMPTN 2013. Bersama langkah kaki yang begitu cepat melangkah, takut tertinggal informasi, saya menuju warnet dan membuka pengumuman SNMPTN 2013. Setelah akun saya masuk, alhamdulillah saya diterima di FTSL ITB. Lantas, saya pun terdiam dan merasa tidak percaya. Akhirnya, tetesan air mata mengapresiasi perasaan saya. Tiba-tiba saja, saya mendapatkan pesan singkat dari saudara saya, Ukh. Tsany: “Ukh keterima gak? Jika Allah menakdirkan Ukhti di ITB, berarti Allah menyertakan kado rezeki-Nya di sana.” Itulah pesan yang membangkitkan perasaan saya karena di samping saya bersyukur dapat lolos seleksi SNMPTN, saya masih menyimpan kegundahan hati, yaitu bagaimana cara mendapatkan beasiswa. Saya membatalkan pengajuan Bidik Misi karena saya merasa ada yang lebih berhak daripada saya. Saat itu saya menemukan hal yang ketiga: Allah tidak pernah lengah dari urusan makhluk-Nya, termasuk rezeki.
Meskipun sudah dinyatakan lulus seleksi SNMPTN, perasaan saya masih belum tenang. Keluarga saya mengharapkan saya untuk kuliah di sekolah kedinasan. Saya sempat bersedih hati, bingung, dan keras hati. Mimpi saya mungkin akan terhenti jika saya bersekolah di sekolah kedinasan. Saya yang idealis, mesti tahu arti realistis. Mungkin Ibu tidak akan terlalu berat jika saya dapat kuliah di sekolah kedinasan. Namun saya bersikukuh dan menemukan perihal yang keempat:  Saya yakin bahwa belajar itu untuk bekerja, tetapi bekerja untuk belajar itu penting. Saya pun yakin karena dunia pekerjaan menyimpan banyak pembelajaran.
Alhamdulillah setelah doa kupanjatkan kepada Dia yang Maha Pengabul doa, akhirnya keluarga saya mendukung saya ke ITB dan menyarankan saya untuk tidak mengikuti seleksi sekolah kedinasan-mohon maaf, sekolah kedinasan juga bagus kok-. Hal yang paling membuat keluargaku merasa lega adalah adanya subsdi Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan dibukanya kembali program Beasiswa ITB Untuk Semua (BIUS). Meskipun saya masih memperjuangkannya, belum ada kepastian UKT saya berapa nominalnya, namun saya yakin akan rencana-Nya yang begitu indah. Saya percaya untuk hal yang kelima: Allah Mampu Membolak-balikkan hati manusia.
Video motivasi dari kakak-kakak GAMAIS tentang “Pesawat Kertas”, mengetuk mata hati saya, “Untuk apa saya kuliah?”. Bagi saya, kuliah merupakan salah satu jalan untuk menemukan jati diri. Saya ingin mendapatkan “Ilmu Gajahnya Ganesha” yang sangat edukatif, unik, dan inspiratif. Disamping ingin mendapatkan kualitas pembelajaran yang baik, “ilmu hidup” di kampus Ganesha ingin saya raih pula melalui kegiatan kemahasiswaan yang bermanfaat. Saya tengah merenungkan hal yang keenam: Bagaimana cara agar saya menjadi mahasiswa berpengaruh di ITB?
Saya mesti paham bahwa pada diri pemuda, di sanalah ada perubahan. Menjadi guru besar ITB merupakan sebagian dari tujuan saya. Secara esensial, saya masih akan terus mencari jati diri, terus belajar, mengabdi, dan menginspirasi. Menjadi cahaya bagi keluarga tercinta dan sesama merupakan bentuk pengabdian saya, asalkan dengan ketulusan. Semoga saya dan keluarga tercinta dapat bertemu dengan sosok pementor terbaikku, Ayah, di syurga-Nya nanti. Inilah hal ketujuh yang paling saya sukai, sebuah Hadits Rasulullah SAW yang begitu menginspirasi: “Barang siapa yang menempuh jalan yang padanya ia menuntut ilmu, maka Allah menempuhkan jalannya ke syurga (H.R Muslim dari Abu Hurairah)”.
Tasikmalaya, 27 Juni 2013

Hanifah Nurawaliah, Camaba FTSL ITB 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar