Hal Ketujuh dari Tujuh Hal
Saat
itu, entah kapan waktunya, saya beserta Ayah tengah menonton sebuah program televisi,
Satu Jam Lebih Dekat. Program
tersebut membahas sisi kehidupan salah seorang tokoh bangsa. Karena saat itu
saya masih SMP, saya pun lupa siapa nama tokoh tersebut. Saya ingat Ayah
berbicara seperti ini,”Néng, kalau
suka sains, masuk ITB aja atuh. Tingal tuh Bapa éta , sekolahnya di ITB”.
Dengan logat sundanya yang “gado-gado”, Ayah mengajakku diskusi namun saya
tidak segera merespon pernyataan Ayah, saya diam.
Tahun
2011 lalu, keluargaku harus menerima kenyataan. Allah memanggil Ayahku dengan
cepat setelah satu tahun menjalani cuci darah. Satu hal yang paling saya ingat
tentangnya, Ayahku sangat memerhatikan masa depan anaknya. Selama lima belas
tahun, Ayah telah mengajariku arti hidup.
Sudah
dua tahun lebih keluargaku ditinggal Ayah tercinta. Kini, saya dan ketiga adik
saya menjadi yatim. Usia anak-anak Ayah memang sedang “cukupan”. Saya sebagai
anak sulung, terdorong lebih kuat untuk menjadi tulang punggung keluarga
tercinta. Pasalnya, Ibuku tentu tidak selamanya produktif mencari nafkah. Usaha
“kostan” yang digeluti Ibu terkadang tidak menentu. Saya harus mengetahui hal yang
pertama: Bagaimana mendapatkan beasiswa.
Tiga
huruf yang paling saya kenang dari Ayah: I, T, dan B. “Institut Teknologi
Bandung”, perguruan tinggi ternama di Indonesia. Saya tahu, begitu banyak
putra/i bangsa yang ingin kuliah di sana. Terlintas, saya pun berminat untuk
kuliah di ITB. Berbagai macam ikhtiar saya lakukan dengan pantang menyerah agar
bisa kuliah di sana dengan cara meningkatkan kualitas dan kuantitas belajar,
serta memahami sosok diri yang sebenarnya.
Masa-masa
galau memilih program studi kuliah
sempat saya alami. Pernah saya ditanya oleh salah seorang teman sekelas
mengenai hal itu. “Nip, mau ke mana?”, begitu katanya. Saya tahu kalau di
kelasku cukup banyak yang ingin masuk ITB, bahkan yang pilihan fakultasnya sama
dengan pilihan saya cukup banyak pula. Dengan jawaban yang tidak meyakinkan,
aku menjawab, “ITB mungkin!”. Kata “mungkin” saat itu masih gemar saya ucapkan.
Padahal, kata tersebut menunjukkan parameter keyakinan seseorang akan hal yang
diucapkannya. Saya memang tidak tegaan
jika ada teman saya yang ingin masuk ke fakultas pilihan saya, kesannya ya
“menambah saingan”. Kata orang, katanya
saya pasti lulus di ITB karena nilai. Saya pikir, nilai tidak serta merta
menunjukkan kualitas diri yang sebenarnya. Saya harus yakin akan hal itu. Bagaimana
untuk membuktikannya? Saya rasa ini hal yang penting untuk diwujudkan.
Akhirnya,
papan tulis kelas sudah cukup penuh bertuliskan nama teman di kelas berikut
cita-citanya. Sudah tertulis di sana, “Hanifah : FTSL ITB.” Ya, inilah fakultas
yang menjadi tujuan saya selama ini. Setelah berhari-hari saya menggalau, akhirnya saya menemukan yang
kedua: Indonesia membutuhkan manusia
yang solutif dalam menanggapi masalah lingkungan hidup.
27 Mei 2013, merupakan momen bersejarah bagi
peserta SNMPTN 2013. Bersama langkah kaki yang begitu cepat melangkah, takut
tertinggal informasi, saya menuju warnet dan membuka pengumuman SNMPTN 2013.
Setelah akun saya masuk, alhamdulillah saya diterima di FTSL ITB. Lantas, saya
pun terdiam dan merasa tidak percaya. Akhirnya, tetesan air mata mengapresiasi
perasaan saya. Tiba-tiba saja, saya mendapatkan pesan singkat dari saudara
saya, Ukh. Tsany: “Ukh keterima gak?
Jika Allah menakdirkan Ukhti di ITB, berarti Allah menyertakan kado rezeki-Nya
di sana.” Itulah pesan yang membangkitkan perasaan saya karena di samping saya
bersyukur dapat lolos seleksi SNMPTN, saya masih menyimpan kegundahan hati, yaitu
bagaimana cara mendapatkan beasiswa. Saya membatalkan pengajuan Bidik Misi
karena saya merasa ada yang lebih berhak daripada saya. Saat itu saya menemukan
hal yang ketiga: Allah tidak pernah
lengah dari urusan makhluk-Nya, termasuk rezeki.
Meskipun
sudah dinyatakan lulus seleksi SNMPTN, perasaan saya masih belum tenang. Keluarga
saya mengharapkan saya untuk kuliah di sekolah kedinasan. Saya sempat bersedih
hati, bingung, dan keras hati. Mimpi saya mungkin akan terhenti jika saya
bersekolah di sekolah kedinasan. Saya yang idealis, mesti tahu arti realistis. Mungkin
Ibu tidak akan terlalu berat jika saya dapat kuliah di sekolah kedinasan. Namun
saya bersikukuh dan menemukan perihal yang keempat: Saya
yakin bahwa belajar itu untuk bekerja, tetapi bekerja untuk belajar itu penting.
Saya pun yakin karena dunia pekerjaan menyimpan banyak pembelajaran.
Alhamdulillah
setelah doa kupanjatkan kepada Dia yang Maha Pengabul doa, akhirnya keluarga
saya mendukung saya ke ITB dan menyarankan saya untuk tidak mengikuti seleksi
sekolah kedinasan-mohon maaf, sekolah kedinasan juga bagus kok-. Hal yang paling membuat keluargaku merasa lega adalah adanya subsdi
Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan dibukanya kembali program Beasiswa ITB Untuk
Semua (BIUS). Meskipun saya masih memperjuangkannya, belum ada kepastian UKT
saya berapa nominalnya, namun saya yakin akan rencana-Nya yang begitu indah. Saya
percaya untuk hal yang kelima: Allah
Mampu Membolak-balikkan hati manusia.
Video
motivasi dari kakak-kakak GAMAIS tentang “Pesawat Kertas”, mengetuk mata hati
saya, “Untuk apa saya kuliah?”. Bagi saya, kuliah merupakan salah satu jalan
untuk menemukan jati diri. Saya ingin mendapatkan “Ilmu Gajahnya Ganesha” yang
sangat edukatif, unik, dan inspiratif. Disamping ingin mendapatkan kualitas
pembelajaran yang baik, “ilmu hidup” di kampus Ganesha ingin saya raih pula melalui
kegiatan kemahasiswaan yang bermanfaat. Saya tengah merenungkan hal yang
keenam: Bagaimana cara agar saya menjadi
mahasiswa berpengaruh di ITB?
Saya
mesti paham bahwa pada diri pemuda, di sanalah ada perubahan. Menjadi guru
besar ITB merupakan sebagian dari tujuan saya. Secara esensial, saya masih akan
terus mencari jati diri, terus belajar, mengabdi, dan menginspirasi. Menjadi cahaya
bagi keluarga tercinta dan sesama merupakan bentuk pengabdian saya, asalkan
dengan ketulusan. Semoga saya dan keluarga tercinta dapat bertemu dengan sosok
pementor terbaikku, Ayah, di syurga-Nya nanti. Inilah hal ketujuh yang paling
saya sukai, sebuah Hadits Rasulullah SAW yang begitu menginspirasi: “Barang
siapa yang menempuh jalan yang padanya ia menuntut ilmu, maka Allah menempuhkan
jalannya ke syurga (H.R Muslim dari Abu Hurairah)”.
Tasikmalaya, 27
Juni 2013
Hanifah
Nurawaliah, Camaba FTSL ITB 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar