Jumat, 17 Oktober 2014

Aku Ingin Berqurban

Aku  Ingin Berqurban

Karena pengorbanan itu dicontohkan
Oleh Siti Hajar tidak lelah mencari air zam-zam
Karena pengorbanan itu dicontohkan
Oleh Ibrahim yang yakin akan  perintah Tuhan
Karena pengorbanan itu dicontohkan
Oleh Ismail yang tidak pernah menyalahkan
Meskipun kita tak kan pernah bisa
Melebihi perjuangan Siti Hajar sebagai Ibu
Melebihi keteladanan  Ibrahim sebagai Ayah
Melebihi kepatuhan Ismail sebagai Anak
Tapi berkorbanlah dalam hal apa saja
Asal ikhlas

Qurban dan Korban, dua kosakata yang hampir sama ketika didengar tetapi berbeda dalam penulisan (homophone). Dua ‘kata’ ini membuat Saya penasaran, “Apakah makna ‘berqurban’ sama saja dengan ‘berkorban’? Apakah pengorbanan termasuk ‘qurban’ juga? Atau jangan-jangan berqurban sama saja dengan rela berkorban?”.  Sepertinya ini menarik untuk dibahas karena begitu uniknya kedua kosakata ini.
Antara Berqurban dan Berkorban
Dalam bahasa Arab, kata ‘Qurban’ berasal dari Qaraba-Yaqribu-Qarban yang berarti dekat. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), korban adalah pemberian untuk menyatakan kebaktian, kesetiaan, dsb. Berkorban, menyatakan kebaktian, kesetiaan, dsb. Dari  kedua makna tersebut, Saya menyimpulkan bahwa berqurban sama saja dengan berkorban. Hanya, konteksnya saja yang berbeda. Berqurban merupakan perbuatan yang bernilai ibadah secara langsung. Tetapi berkorban, belum tentu bernilai ibadah, tergantung kepada siapa seseorang berkorban.
            Al-Qur’an memuat banyak istilah ‘qurban’. Dalam QS. Al-Kautsar ayat 2, Allah SWT berfirman:
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).” (QS 108:2)

            Berdasarkan ayat tersebut, jelaslah bahwa berqurban merupakan ibadah dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Secara terminologis, berqurban adalah  menyembelih ‘hewan qurban’ pada Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah) sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Tampaknya, tidak sedikit orang yang masih keliru antara makna qurban dan korban. Tetapi dalam hal ini, Saya berpendapat bahwa ada korelasi nonverbal antara kedua kata tersebut. Bukan perihal makna secara bahasa, tetapi hikmah qurban terhadap pengorbanan.

Hikmah Berqurban
            Tidak ada sesuatu pun yang Allah ciptakan tanpa hikmah. Apalagi tentang ibadah. Banyak sekali rahasia dan hikmah dalam setiap perintah-Nya. Berqurban merupakan salah satu bentuk ketaatan pada Allah. Karena dalam berqurban, seorang hamba tidak hanya sekedar menyembelih hewan qurban, tetapi menyerahkan jiwa, raga, dan harta demi menggapai keridaan-Nya adalah esensi berqurban yang sebenarnya.
            “Daging-daging dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. 22:37)
            Berqurban merupakan wujud rasa syukur seorang hamba pada Allah, Rabb Yang Maha Pemberi Rizki. Dalam berqurban, seorang hamba mengeluarkan sebagian hartanya di jalan Allah. Semua orang memiliki perasaan yang sama, bahagia atas rezeki yang Allah berikan. Bahkan, seseorang yang biasanya jarang memakan daging, akhirnya bisa merasakan kelezatan rizki Tuhan (salah satunya daging) di Hari Raya Idul Adha. Sungguh, di sinilah salah satu bentuk keindahan islam bagi seluruh umat manusia dan semesta.
            Hikmah lainnya dari berqurban adalah  merasakan perjuangan dan pengorbanan Nabi Kekasih Allah, Ibrahim AS dan puteranya, Ismail AS. Sejarah mencatat bahwa betapa taatnya Nabi Ismail yang rela dan yakin atas perintah Allah. Begitu pula Ayahnya, Nabi Ibrahim, adalah hamba Allah yang taat dan tidak mengikuti langkah-langkah setan. Perintah Allah kepada Ibrahim untuk menyembelih Ismail ternyata merupakan sebuah ujian ketaatan. Dan Allah pun menggantikan Ismail yang tengah akan disembelih dengan seekor biri.biri. Maasyaa’ Allah...
Aku Ingin Berqurban
            Pemaparan di atas tentang berqurban, memotivasi Saya untuk ingin berqurban. Meskipun masih berupa cita-cita (belum dapat diwujudkan), Saya yakin suatu saat nanti, Saya bisa berqurban atas kehendak Allah. Melalui tulisan sederhana ini, Saya menuliskan cita-cita berqurban agar bisa didoakan oleh teman-teman. Aamiin.
            Saya ingin sedikit berbagi cerita tentang ambisi orang-orang di sekitar Saya di momen Idul Adha tahun ini. Pertama, propaganda kakak-kakak Gamais yang kece abis untuk mengajak mahasiswa ITB berqurban. Propaganda ini menjadikan Reminder bagi Saya khususnya, yang selama ini ternyata lengah terhadap mimpi tahun lalu di saat Saya bertekad untuk berqurban di tahun 2014.
Kedua, kelengahan Saya terhadap mimpi berqurban di tahun ini dijebak dengan sebuah “kencleng” bertuliskan ajakan berqurban dari kakak-kakak KAMIL (Keluarga Mahasiswa Islam Teknik Lingkungan). Setiap harinya, sebuah amplop diedarkan ke kelas Saya (Teknik Lingkungan 2013). Lagi-lagi, amplop ini seperti sebuah teguran atas kelengahan Saya. H-7 Idul Adha, amplop KAMIL tersebut berubah menjadi sebuah kantong seperti tempat pensil dengan tulisan pengingat UTS yang sudah dekat. Hmmmm UTS..... Mungkin ini bisa menjadi jalan hikmah kemudahan dalam menjalani UTS. Momen ajakan berqurban melalui sebuah amplop tersebut pun membuat beberapa teman Saya tertarik untuk berqurban bahkan penasaran dengan ibadah qurban itu seperti apa.
Ketiga,  panggilan ibadah yang selama beberapa hari ini Saya lengahkan, ternyata diingatkan melalui sebuah pesan singkat ajakan menulis kisah inspiratif tentang berqurban. Semoga ini menjadi penguat tekad Saya agar di tahun berikutnya, agar Saya tidak lengah dalam mewujudkan mimpi, salah satunya mimpi berqurban.
Itulah beberapa hal yang Saya rasakan di momen Idul Adha tahun ini. Meskipun mimpi berqurban belum dikehendaki-Nya, setidaknya Saya diingatkan oleh semangat orang-orang sekitar yang memiliki ambisi untuk meraih keridaan-Nya dengan berqurban. Satu hal yang paling esensial dari berqurban, adalah keikhlasan sebagai parameter apakah pengorbanan kita akan menjadi ibadah atau tidak. Tidak hanya #Ikhlasberqurban tetapi ikhlas berkorban dalam menjemput taqdir-Nya, kapan Saya bisa berqurban atas hasil jerih payah sendiri. Mudah-mudahan Allah menghendaki dan pasti menghendaki. Aamiin...
Bandung, 2 Oktober 2014
Hanifah Nurawaliah
15313051

BIODATA DIRI
NAMA            : HANIFAH NURAWALIAH
NIM                : 15313051
JURUSAN      : TEKNIK LINGKUNGAN ITB
TTL                 : TASIKMALAYA, 11 FEBRUARI 1995
ALAMAT       : JL TAMAN SARI 33B/56
NO HP                        : 08977485189
EMAIL           : hnurawaliah@gmail.com






:

            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar